Pasang Iklan Murah
Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Sunday, December 23, 2012

Anti Galau - Mengapa kita sendiri yang menciptakan masalah itu sendiri? Sementara masih begitu banyak masalah yang harus kita selesaikan!

Mengapa demikian banyak orang yang terbelit masalah utang kartu kredit yang menumpuk?
Akibatnya dikejar~kejar dan diteror tukang tagih.

Karena tidak sedikit yang menggunakan kartu kredit untuk hal~hal yang tidak penting.

Tetapi sekadar untuk gaya hidup memuaskan nafsu belanja. Memaksakan diri membeli sesuatu yang belum tentu kita butuhkan.

Sebagai contoh lagi orang~orang yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Dimana tujuan sebenarnya untuk menghindari masalah. Namun kenyataannya yang terjadi justru semakin terbelit masalah. Bahkan kemudian hidup dengan setumpuk masalah.

Ada juga yang ingin menghindari masalah dalam rumah tangga lalu pergi senang~senang keluar rumah.
Apakah masalahnya selesai? Belum tentu. Bisa jadi tambah masalah. Karena berawal ingin bersenang~senang bebas dari masalah. Malahan terbelit masalah perselingkuhan.

Ada lagi yang ingin terbebas dari utang~utang. Lalu mencari penyelesaiannya dengan meminjam ke renteinir yang dikira sebagai penolong.

Apa yang terjadi? Masalah sementara memang selesai. Tetapi kemudian justru bertambah berat.

Karena utang ke renteinir mejadi berlipat yang disebabkan bunga yang mencekik leher.

Itulah akibatnya bila ingin menyelesaikan masalah dengan jalan mencari masalah baru. Mungkin kita bisa tertawa. Namun itulah yang kerap kita lakukan.

Sumber: Kompasiana

Mengapa Masih Mencari Masalah, Sementara Sudah Banyak Masalah?

0 comments

Anti Galau - Mengapa kita sendiri yang menciptakan masalah itu sendiri? Sementara masih begitu banyak masalah yang harus kita selesaikan!

Mengapa demikian banyak orang yang terbelit masalah utang kartu kredit yang menumpuk?
Akibatnya dikejar~kejar dan diteror tukang tagih.

Karena tidak sedikit yang menggunakan kartu kredit untuk hal~hal yang tidak penting.

Tetapi sekadar untuk gaya hidup memuaskan nafsu belanja. Memaksakan diri membeli sesuatu yang belum tentu kita butuhkan.

Sebagai contoh lagi orang~orang yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Dimana tujuan sebenarnya untuk menghindari masalah. Namun kenyataannya yang terjadi justru semakin terbelit masalah. Bahkan kemudian hidup dengan setumpuk masalah.

Ada juga yang ingin menghindari masalah dalam rumah tangga lalu pergi senang~senang keluar rumah.
Apakah masalahnya selesai? Belum tentu. Bisa jadi tambah masalah. Karena berawal ingin bersenang~senang bebas dari masalah. Malahan terbelit masalah perselingkuhan.

Ada lagi yang ingin terbebas dari utang~utang. Lalu mencari penyelesaiannya dengan meminjam ke renteinir yang dikira sebagai penolong.

Apa yang terjadi? Masalah sementara memang selesai. Tetapi kemudian justru bertambah berat.

Karena utang ke renteinir mejadi berlipat yang disebabkan bunga yang mencekik leher.

Itulah akibatnya bila ingin menyelesaikan masalah dengan jalan mencari masalah baru. Mungkin kita bisa tertawa. Namun itulah yang kerap kita lakukan.

Sumber: Kompasiana

Friday, December 21, 2012

Anti Galau - “Buatlah orang lain merasa dibutuhkan, penting, dan dihargai, maka mereka akan membalas hal yang sama kepada Anda” [John Maxwell]
Apa yang kita perlakuan kepada orang lain, itulah yang akan kita alami.

Daripada berpikir orang lain membutuhkan kita, maka alangkah baiknya kita membuat orang lain dibutuhkan.

Dari pada kita berharap menjadi orang penting bagi orang lain, lebih baik buatlah orang lain menjadi penting.

Daripada berharap orang lain menghargai kita, alangkah baiknya kita terlebih dahulu menghargai mereka.

Setelah apa yang kita lakukan, tanpa berharap pun orang lain akan membutuhkan kita. Menganggap kita penting dan menghargai kita.

Semesta ini adil, tidak akan ingkar janji. Kebaikan atau kesalahan yang kita lakukan akan berbalas tergantung waktunya saja.

Apa yang kita lakukan kepada hidup dan orang lain, maka semuanya akan menjadi milik kita saat ini, esok, lusa, atau kelak.

Namun masalahnya adalah kita seringkali berharap orang lain membutuhkan kita. Orang lain lebih menganggap kita penting. Dan berharap mereka menghargai kita lebih dulu.

Gengsi dong kalau saya yang duluan! Apa untungnya, lagipula dia bukan siapa-siapa.

Kepicikan dan kesombongan itulah yang menghalangi kita menjadi berkah bagi orang lain.

Seperti halnya dalam menulis. Apakah kita berpikir pembaca yang membutuhkan penulis atau penulis yang membutuhkan pembaca?

Lebih baik menjadi penulis yang membutuhkan pembaca.

Apakah merasa penting sebagai penulis atau menganggap penting pembaca?

Apakah merasa penulis yang patut dihargai atau penulis yang lebih menghargai pembaca?

Jawaban klisenya adalah saling menghargai dan sama pentingnya.

Tetapi bila harus memilih, penulis yang baik dan rendah hati akan lebih mementingkan dan menghargai pembacanya.

Caranya?
Dengan menyediakan sepenuh hati dan ketulusan dalam menulis. Menulis dengan hati, pikiran, dan kata-kata yang terbaik.

Apa yang terjadi?

Rasakan sendiri!  |  (Katedrarajawen)

Sumber: Kompasiana

Buatlah Orang Lain Dibutuhkan, Penting dan Dihargai

0 comments

Anti Galau - “Buatlah orang lain merasa dibutuhkan, penting, dan dihargai, maka mereka akan membalas hal yang sama kepada Anda” [John Maxwell]
Apa yang kita perlakuan kepada orang lain, itulah yang akan kita alami.

Daripada berpikir orang lain membutuhkan kita, maka alangkah baiknya kita membuat orang lain dibutuhkan.

Dari pada kita berharap menjadi orang penting bagi orang lain, lebih baik buatlah orang lain menjadi penting.

Daripada berharap orang lain menghargai kita, alangkah baiknya kita terlebih dahulu menghargai mereka.

Setelah apa yang kita lakukan, tanpa berharap pun orang lain akan membutuhkan kita. Menganggap kita penting dan menghargai kita.

Semesta ini adil, tidak akan ingkar janji. Kebaikan atau kesalahan yang kita lakukan akan berbalas tergantung waktunya saja.

Apa yang kita lakukan kepada hidup dan orang lain, maka semuanya akan menjadi milik kita saat ini, esok, lusa, atau kelak.

Namun masalahnya adalah kita seringkali berharap orang lain membutuhkan kita. Orang lain lebih menganggap kita penting. Dan berharap mereka menghargai kita lebih dulu.

Gengsi dong kalau saya yang duluan! Apa untungnya, lagipula dia bukan siapa-siapa.

Kepicikan dan kesombongan itulah yang menghalangi kita menjadi berkah bagi orang lain.

Seperti halnya dalam menulis. Apakah kita berpikir pembaca yang membutuhkan penulis atau penulis yang membutuhkan pembaca?

Lebih baik menjadi penulis yang membutuhkan pembaca.

Apakah merasa penting sebagai penulis atau menganggap penting pembaca?

Apakah merasa penulis yang patut dihargai atau penulis yang lebih menghargai pembaca?

Jawaban klisenya adalah saling menghargai dan sama pentingnya.

Tetapi bila harus memilih, penulis yang baik dan rendah hati akan lebih mementingkan dan menghargai pembacanya.

Caranya?
Dengan menyediakan sepenuh hati dan ketulusan dalam menulis. Menulis dengan hati, pikiran, dan kata-kata yang terbaik.

Apa yang terjadi?

Rasakan sendiri!  |  (Katedrarajawen)

Sumber: Kompasiana

Berita TerhangatRSS

SainstekRSS

HiburanRSS

Dinamika Cinta

LifestyleRSS

Kesehatan

 

Posts RSSComments RSSDMCA PROTECTEDBack to top
Ya Iya dong - Premium Blogger Template © 2014 ∙ All Right Reserved ∙
Designed by Muhammad Sapoandie