Pasang Iklan Murah
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Tuesday, February 26, 2013

Kata-Kata dalam Sebuah Surat
Ku-klik - Lelaki itu sedang duduk di teras belakang lantai dua rumah pribadinya. Ia tampak khusuk memandang langit. Di tangannya, sebuah buku digenggam. Terselip di buku, pulpen hitam yang menjadi pembatas sebuah catatan.

Merasa tak mendapat sesuatu dari hampaan langit, ia beralih pada kebun pisang yang warna daun-daunnya di malam hari ini, tak jelas mana yang coklat mana yang hijau. Tak dapat apa-apa juga. Ia kembali melihat langit.

Segaris senyum lalu terbentuk. Kali ini, setelah lama ia menilik bulan dan selaput awan. Diseruputnya kopi hitam yang sudah tidak mengeluarkan uap. Buku di tangan itu pun terbuka. Tutup bulpen juga. Catatan itu sepertinya akan lancar, sebelum ia terbentur oleh kedalaman perasaan.

Dimanakah kata ‘bulan’ mesti diletakkan? Di depankah? Sehingga menjadi “Bulan mengintip dari balik gaun tipis sang awan malam”, atau di belakang saja, “di balik gaun tipis awan malam, bulan mengintip”.

Kalau dilihat dari sisi suasana yang muncul, kalimat kedua sepertinya lebih baik. Baiklah, itu saja. Tidak. Yang pertama saja. Ya, yang pertama saja. Tapi, kata ‘mengintip’ itu, tidakkah terlalu…apa istilahnya…girly. Terlalu manis. Seakan-akan bulan itu adalah gadis kecil yang baru belajar jatuh cinta, yang mengintip dari celah gorden jendela kamarnya seorang pemuda tampan yang tinggal di seberang rumah.

Tidak. Aku tidak boleh terlihat ‘manis’ di depannya. Setidaknya, jangan terlalu terang-terangan. Coba ganti kata. Misalnya ‘menatap’. Ah, terlalu garang. Terlalu serius. Aku memang serius, tapi jangan terlalu terang-terangan. Bagaimana dengan ‘menyembul’. Cih, nanti dikira bulan adalah bisul. Nah, coba ‘menyibak’. Hmm…Cukup elegan. Cukup anggun. Dan tidak cengeng. Tapi, kata itu mesti memerlukan objek. Apa kah yang pantas menjadi objeknya?

Lelaki itu membaca dalam hati catatannya yang hanya satu kalimat. Berulang-ulang. Ia bahkan merasa perlu mengucapkannya. Tidak keras. Sekadar gerak bibir.
Kata ‘dari’ dihilangkan saja. Jadi kalimatnya akan seperti ini “bulan menyibak gaun tipis awan malam”. Huh, kata ‘gaun’ itu, nanti dikira cabul.

Memang bukan maksudku, tapi bisa saja ia salah menafsirkan. Atau perlu kujelaskan; gaun adalah keanggunan, dan perasaan memang selayaknya menyandang itu. Ah, tidak. Biarkan ia membaca dengan caranya. Tapi, jelas, kata ini sebaiknya diganti. Kata ‘tabir’ mungkin bagus. Yah bagus. Dan tidak ada kemungkinan ia menganggap diriku cabul.

Terdengar gesekan cepat mata bulpen di kertas. Tertulislah satu kalimat kini, satu kalimat yang lelaki itu yakini telah sangat utuh mewakili perasaan dan pemikirannya. Bulan menyibak tabir tipis awan malam.

Buku kecil itu ditutup dengan bulpen masih menyangkut. Lelaki itu menarik napas panjang. Ia mengambil kopinya, lalu meninggalkan teras belakang setelah melihat sekali lagi bulan samar karena dikerubuti awan tipis.

Esok hari, seusai pulang kerja dan melepas seragam kantor, lelaki itu kembali berusaha kuat merenung. Sampai turunlah malam, yang akhirnya menjadi malam yang sungguh berat baginya. Ia ingin sesegera mungkin perasaan dan pikirannya dibaca oleh seseorang.

Tapi, bahkan untuk memikirkan satu kata pun kepalanya sudah menuntut obat puyeng. Bisa saja ia mencontek dari beberapa buku puisi yang tersimpan di dalam kardus di bawah ranjang. Tinggal pilih. Tersedia  gaya dalam negeri, China, Eropa, Amerika, dan sedikit Arab. Toh, dia tidak akan tahu. Pasti tidak akan tahu.

Namun, ia tidak ingin melakukannya. Prinsipnya akan terganggu. Cinta memang milik semua orang namun sejatinya ia adalah pengalaman masing-masing. Mengungkapkan cinta pribadi dengan pemikiran orang lain sama halnya dengan menjawab soal ujian dengan mencontek. Itu tidak fair. Begitulah anggapannya.

Maka, setelah merasa teras belakang tidak lagi mampu memberi apa-apa, lelaki itu memutuskan untuk memasukkan buku dan pulpen ke dalam tas kecil, yang lalu disandingnya. Beberapa menit kemudian, ia sudah menyusuri lajur kiri jalan dengan motor 3 tak-nya. Yah, segelas kopi di udara luar mungkin punya banyak kata.

Di sebuah kedai kopi yang memasang meja kursi di teras depan, pinggir jalan, tanpa atap, lelaki itu memarkir motor. Ia duduk di tempat yang kosong; dekat pagar halaman dan menghadap ke jalan. Di belakangnya duduk dua pria berbadan besar. Beberapa meja ke kiri, tiga orang perempuan muda cekakak-cekikik entah apa sebab. Ramai pemuda berkerumum di meja di hadapan meja gadis-gadis muda, tampak berbicang-bincang setengah serius. Tapi, lelaki itu tidak terlalu ingin memerhatikan mereka semua.

Setelah seorang pelayan lelaki datang ke mejanya, menanyakan pesanan, dan ia jawab lekas “tubruk”, ia pun memulai niatnya; tenggelam dalam pencarian kata. Dari deru motor dan mobil, dari lampu-lampu merah-kuning-hijau-kecil-besar, dari suara serak pengamen yang bebas berkeliaran, dari segala tulisan yang terpampang di toko-toko di hadapan, dari hamparan langit hitam yang hanya bernoda satu bintang, lelaki itu berharap menemukan susunan kalimat.

Satu-satunya yang sempat mengganggunya adalah ketika pelayan lelaki kembali dengan membawa pesanan. Tidak mengganggu sesungguhnya, karena ia juga berharap menemukan yang dicarinya dalam pahit kopi tubruk yang ia tuangi gula tiga seperempat sendok teh.

Mungkin 15 menit ia menjelma seperti patung pancuran kencing. Ada tapi tak ada. Beberapa orang memang sempat melihatnya, namun, yah, dia cuma patung pancuran kencing. Kondisi ini sejatinya menguntungkan. Tanpa merasa risih, ia mengeluarkan buku dan bulpoin, lalu mengaksarakan hasil pertapaan. Cepat ia menulisnya. Seakan-akan, bila terlambat beberapa hembusan napas saja, kata-kata itu akan terurai hilang bersama angin malam.

Akhirnya, dengan tersenyum kecil, ia melangkah ke kasir, membayar, dan pergi. Sebelum sampai di rumah, ia menyempatkan diri untuk membeli martabak telor. Karena martabak telor itu memang enak, sudah sewajarnya ia mengantre. Tapi, itu tidak menghambatnya untuk berbahagia.

Di rumah, ia menulis ulang tulisan di buku pada sebuah kertas coklat tua. Kertas putih menurutnya terlalu biasa. Perlu ada nilai estetika secara fisik untuk hal-hal mengenai perasaan, dan kertas coklat tua itu, baginya adalah suatu pelambang kealamian perasaan.

Pelan-pelan ia menulis. Pelan-pelan sekali. Setiap huruf kapital harus diberi ekor. Pulpennya pun yang spesial, bukan yang tadi ia gunakan. Pulpen yang ini, yang hanya ia gunakan untuk mendandatangani buku pribadi, punya mata bisa memekatkan tinta. Aksara pun jadi lebih eksotik. Lalu, setengah jam berlalu. Lelaki itu akhirnya menuntaskan kabar perasaannya dengan sebuah lipatan kertas yang lembut dan hati-hati.

Dengan sepiring martabak telor yang mulai mendingin dan kopi hitam murahan, lelaki itu melangkah ke teras belakang. Tak ada yang bisa menghentikan senyumnya kali ini. Nama-nama toko itu begitu hebat, sangat inspratif. Tak ada yang perlu diubah. Kata-kata ini sudah sempurna. Kebahagiannya memang tidak bisa diganggu, pun oleh mendung yang mulai menutupi satu-satunya bintang.

**********

Pintu rumah kontrakan yang terletak dua rumah dari muka gang itu diketuk pekerja pos. Seorang gadis muda berbehel gigi membuka pintu dan tampak bingung saat disodorkan sebuah surat. Ia perlu beberapa saat demi memastikan bahwa surat itu memang tidak salah alamat. Setelah yakin, ia kemudian menandatangani lembar penerimaan. Pekerja pos pun berlalu.

Seorang gadis lain yang berkacamata bulat besar –bukan kacamata yang dipakai kakek-kakek-, datang menghampir gadis berbehel, melempar tanya “Apaan tuh?”
Gadis berbehel mengatakan satu-satunya jawaban yang pasti.
“Buat Ive. Mana Ive?”
“Masih mandi”

Lalu mereka membiarkan saja surat itu tergeletak di atas kasur sampai gadis berkaca mata merasa memiliki ide cemerlang. “Buka aja yuk”. Ia tentu gadis yang memiliki sifat selalu ingin tahu dan penasaran. Satu karakter yang baik tentunya. Penyalahgunaan karakter baik itu bisa membuat gadis tersebut seorang penggosip hebat.

Temannya tidak menolak. Mereka pun membukanya. Mereka pun membaca. Meledaklah tawa mereka. Pada saat bersamaan, yang berhak atas surat tersebut keluar dari kamar mandi. Gadis berkaca mata segera melantunkan yang tertera di surat dengan gaya seorang penyair klasik.


“Teruntuk, Ive –ia yang garis senyumnya adalah putih bulan purnama
Terpujilah para serdadu yang menembak dan ditembak peluru, sehingga kita bisa merdeka bertemu.


Terpujilah Gajah Mada yang menyatukan Nusantara sehingga kita punya latar sejarah yang sama. Terpujilah Mutiara yang terbentuk dari tangis Kerang, demi ada (semoga) di jemarimu. Terpujilah bintang kecil yang bisa bersama kita lihat meski berlainan tempat.

Bulan menyibak tabik tipis awan malam. Terpujilah baginya karena aku diizinkan mengambilnya untuk menaungi gelap malammu.

Ive segera bergegas merebut surat. Gadis berkaca mata membiarkan untuk lalu terpingkal di atas kasur. Gadis berbehel, yang selalu menghargai segala bentuk romantisme, bertanya “memangnya dari siapa sih?”.

Tapi jelas, ia tidak bisa menahan cekikikannya. Awalnya, Ive tidak berniat memberi tahu. Ia pasti akan menjadi bahan ejekan. Namun, setelah menimbang semua ini dari sisi keleluconan duniawi, ia pun menjawab “dari kepala sekolah itu”.

“Tempat magang ngajar?”
Ive mengangguk.
“Yang umurnya lima puluh tahun?”
Ive mengangguk.

Semua tertawa. Ada yang mengucapkan “tua-tua keladi”. Entah siapa. Ive tertawa juga. Segala macam kalimat pun meluncur deras dari bibir-bibir muda mereka. Silih berganti. Silang menyilang. Sampai handphone salah seorang berbunyi.

“Beib mau jemput sekarang? 15 menit lagi ya. Bawa mobil kan? Aku bertiga”.
Mereka lalu sibuk memilih sepatu. Surat itu, tidak jelas letaknya. Mungkin di bawah selimut, atau di atas dispenser, atau di dekat ember berisi pakaian kotor, atau...

Oleh: Abroorza Ahmad Yusra
Pontianak, Mei 2012 - See more at: http://news.okezone.com/read/2013/01/08/551/743075/kata-kata-dalam-sebuah-surat#sthash.HQNzzmLw.dpuf

Kata-Kata dalam Sebuah Surat

0 comments

Kata-Kata dalam Sebuah Surat
Ku-klik - Lelaki itu sedang duduk di teras belakang lantai dua rumah pribadinya. Ia tampak khusuk memandang langit. Di tangannya, sebuah buku digenggam. Terselip di buku, pulpen hitam yang menjadi pembatas sebuah catatan.

Merasa tak mendapat sesuatu dari hampaan langit, ia beralih pada kebun pisang yang warna daun-daunnya di malam hari ini, tak jelas mana yang coklat mana yang hijau. Tak dapat apa-apa juga. Ia kembali melihat langit.

Segaris senyum lalu terbentuk. Kali ini, setelah lama ia menilik bulan dan selaput awan. Diseruputnya kopi hitam yang sudah tidak mengeluarkan uap. Buku di tangan itu pun terbuka. Tutup bulpen juga. Catatan itu sepertinya akan lancar, sebelum ia terbentur oleh kedalaman perasaan.

Dimanakah kata ‘bulan’ mesti diletakkan? Di depankah? Sehingga menjadi “Bulan mengintip dari balik gaun tipis sang awan malam”, atau di belakang saja, “di balik gaun tipis awan malam, bulan mengintip”.

Kalau dilihat dari sisi suasana yang muncul, kalimat kedua sepertinya lebih baik. Baiklah, itu saja. Tidak. Yang pertama saja. Ya, yang pertama saja. Tapi, kata ‘mengintip’ itu, tidakkah terlalu…apa istilahnya…girly. Terlalu manis. Seakan-akan bulan itu adalah gadis kecil yang baru belajar jatuh cinta, yang mengintip dari celah gorden jendela kamarnya seorang pemuda tampan yang tinggal di seberang rumah.

Tidak. Aku tidak boleh terlihat ‘manis’ di depannya. Setidaknya, jangan terlalu terang-terangan. Coba ganti kata. Misalnya ‘menatap’. Ah, terlalu garang. Terlalu serius. Aku memang serius, tapi jangan terlalu terang-terangan. Bagaimana dengan ‘menyembul’. Cih, nanti dikira bulan adalah bisul. Nah, coba ‘menyibak’. Hmm…Cukup elegan. Cukup anggun. Dan tidak cengeng. Tapi, kata itu mesti memerlukan objek. Apa kah yang pantas menjadi objeknya?

Lelaki itu membaca dalam hati catatannya yang hanya satu kalimat. Berulang-ulang. Ia bahkan merasa perlu mengucapkannya. Tidak keras. Sekadar gerak bibir.
Kata ‘dari’ dihilangkan saja. Jadi kalimatnya akan seperti ini “bulan menyibak gaun tipis awan malam”. Huh, kata ‘gaun’ itu, nanti dikira cabul.

Memang bukan maksudku, tapi bisa saja ia salah menafsirkan. Atau perlu kujelaskan; gaun adalah keanggunan, dan perasaan memang selayaknya menyandang itu. Ah, tidak. Biarkan ia membaca dengan caranya. Tapi, jelas, kata ini sebaiknya diganti. Kata ‘tabir’ mungkin bagus. Yah bagus. Dan tidak ada kemungkinan ia menganggap diriku cabul.

Terdengar gesekan cepat mata bulpen di kertas. Tertulislah satu kalimat kini, satu kalimat yang lelaki itu yakini telah sangat utuh mewakili perasaan dan pemikirannya. Bulan menyibak tabir tipis awan malam.

Buku kecil itu ditutup dengan bulpen masih menyangkut. Lelaki itu menarik napas panjang. Ia mengambil kopinya, lalu meninggalkan teras belakang setelah melihat sekali lagi bulan samar karena dikerubuti awan tipis.

Esok hari, seusai pulang kerja dan melepas seragam kantor, lelaki itu kembali berusaha kuat merenung. Sampai turunlah malam, yang akhirnya menjadi malam yang sungguh berat baginya. Ia ingin sesegera mungkin perasaan dan pikirannya dibaca oleh seseorang.

Tapi, bahkan untuk memikirkan satu kata pun kepalanya sudah menuntut obat puyeng. Bisa saja ia mencontek dari beberapa buku puisi yang tersimpan di dalam kardus di bawah ranjang. Tinggal pilih. Tersedia  gaya dalam negeri, China, Eropa, Amerika, dan sedikit Arab. Toh, dia tidak akan tahu. Pasti tidak akan tahu.

Namun, ia tidak ingin melakukannya. Prinsipnya akan terganggu. Cinta memang milik semua orang namun sejatinya ia adalah pengalaman masing-masing. Mengungkapkan cinta pribadi dengan pemikiran orang lain sama halnya dengan menjawab soal ujian dengan mencontek. Itu tidak fair. Begitulah anggapannya.

Maka, setelah merasa teras belakang tidak lagi mampu memberi apa-apa, lelaki itu memutuskan untuk memasukkan buku dan pulpen ke dalam tas kecil, yang lalu disandingnya. Beberapa menit kemudian, ia sudah menyusuri lajur kiri jalan dengan motor 3 tak-nya. Yah, segelas kopi di udara luar mungkin punya banyak kata.

Di sebuah kedai kopi yang memasang meja kursi di teras depan, pinggir jalan, tanpa atap, lelaki itu memarkir motor. Ia duduk di tempat yang kosong; dekat pagar halaman dan menghadap ke jalan. Di belakangnya duduk dua pria berbadan besar. Beberapa meja ke kiri, tiga orang perempuan muda cekakak-cekikik entah apa sebab. Ramai pemuda berkerumum di meja di hadapan meja gadis-gadis muda, tampak berbicang-bincang setengah serius. Tapi, lelaki itu tidak terlalu ingin memerhatikan mereka semua.

Setelah seorang pelayan lelaki datang ke mejanya, menanyakan pesanan, dan ia jawab lekas “tubruk”, ia pun memulai niatnya; tenggelam dalam pencarian kata. Dari deru motor dan mobil, dari lampu-lampu merah-kuning-hijau-kecil-besar, dari suara serak pengamen yang bebas berkeliaran, dari segala tulisan yang terpampang di toko-toko di hadapan, dari hamparan langit hitam yang hanya bernoda satu bintang, lelaki itu berharap menemukan susunan kalimat.

Satu-satunya yang sempat mengganggunya adalah ketika pelayan lelaki kembali dengan membawa pesanan. Tidak mengganggu sesungguhnya, karena ia juga berharap menemukan yang dicarinya dalam pahit kopi tubruk yang ia tuangi gula tiga seperempat sendok teh.

Mungkin 15 menit ia menjelma seperti patung pancuran kencing. Ada tapi tak ada. Beberapa orang memang sempat melihatnya, namun, yah, dia cuma patung pancuran kencing. Kondisi ini sejatinya menguntungkan. Tanpa merasa risih, ia mengeluarkan buku dan bulpoin, lalu mengaksarakan hasil pertapaan. Cepat ia menulisnya. Seakan-akan, bila terlambat beberapa hembusan napas saja, kata-kata itu akan terurai hilang bersama angin malam.

Akhirnya, dengan tersenyum kecil, ia melangkah ke kasir, membayar, dan pergi. Sebelum sampai di rumah, ia menyempatkan diri untuk membeli martabak telor. Karena martabak telor itu memang enak, sudah sewajarnya ia mengantre. Tapi, itu tidak menghambatnya untuk berbahagia.

Di rumah, ia menulis ulang tulisan di buku pada sebuah kertas coklat tua. Kertas putih menurutnya terlalu biasa. Perlu ada nilai estetika secara fisik untuk hal-hal mengenai perasaan, dan kertas coklat tua itu, baginya adalah suatu pelambang kealamian perasaan.

Pelan-pelan ia menulis. Pelan-pelan sekali. Setiap huruf kapital harus diberi ekor. Pulpennya pun yang spesial, bukan yang tadi ia gunakan. Pulpen yang ini, yang hanya ia gunakan untuk mendandatangani buku pribadi, punya mata bisa memekatkan tinta. Aksara pun jadi lebih eksotik. Lalu, setengah jam berlalu. Lelaki itu akhirnya menuntaskan kabar perasaannya dengan sebuah lipatan kertas yang lembut dan hati-hati.

Dengan sepiring martabak telor yang mulai mendingin dan kopi hitam murahan, lelaki itu melangkah ke teras belakang. Tak ada yang bisa menghentikan senyumnya kali ini. Nama-nama toko itu begitu hebat, sangat inspratif. Tak ada yang perlu diubah. Kata-kata ini sudah sempurna. Kebahagiannya memang tidak bisa diganggu, pun oleh mendung yang mulai menutupi satu-satunya bintang.

**********

Pintu rumah kontrakan yang terletak dua rumah dari muka gang itu diketuk pekerja pos. Seorang gadis muda berbehel gigi membuka pintu dan tampak bingung saat disodorkan sebuah surat. Ia perlu beberapa saat demi memastikan bahwa surat itu memang tidak salah alamat. Setelah yakin, ia kemudian menandatangani lembar penerimaan. Pekerja pos pun berlalu.

Seorang gadis lain yang berkacamata bulat besar –bukan kacamata yang dipakai kakek-kakek-, datang menghampir gadis berbehel, melempar tanya “Apaan tuh?”
Gadis berbehel mengatakan satu-satunya jawaban yang pasti.
“Buat Ive. Mana Ive?”
“Masih mandi”

Lalu mereka membiarkan saja surat itu tergeletak di atas kasur sampai gadis berkaca mata merasa memiliki ide cemerlang. “Buka aja yuk”. Ia tentu gadis yang memiliki sifat selalu ingin tahu dan penasaran. Satu karakter yang baik tentunya. Penyalahgunaan karakter baik itu bisa membuat gadis tersebut seorang penggosip hebat.

Temannya tidak menolak. Mereka pun membukanya. Mereka pun membaca. Meledaklah tawa mereka. Pada saat bersamaan, yang berhak atas surat tersebut keluar dari kamar mandi. Gadis berkaca mata segera melantunkan yang tertera di surat dengan gaya seorang penyair klasik.


“Teruntuk, Ive –ia yang garis senyumnya adalah putih bulan purnama
Terpujilah para serdadu yang menembak dan ditembak peluru, sehingga kita bisa merdeka bertemu.


Terpujilah Gajah Mada yang menyatukan Nusantara sehingga kita punya latar sejarah yang sama. Terpujilah Mutiara yang terbentuk dari tangis Kerang, demi ada (semoga) di jemarimu. Terpujilah bintang kecil yang bisa bersama kita lihat meski berlainan tempat.

Bulan menyibak tabik tipis awan malam. Terpujilah baginya karena aku diizinkan mengambilnya untuk menaungi gelap malammu.

Ive segera bergegas merebut surat. Gadis berkaca mata membiarkan untuk lalu terpingkal di atas kasur. Gadis berbehel, yang selalu menghargai segala bentuk romantisme, bertanya “memangnya dari siapa sih?”.

Tapi jelas, ia tidak bisa menahan cekikikannya. Awalnya, Ive tidak berniat memberi tahu. Ia pasti akan menjadi bahan ejekan. Namun, setelah menimbang semua ini dari sisi keleluconan duniawi, ia pun menjawab “dari kepala sekolah itu”.

“Tempat magang ngajar?”
Ive mengangguk.
“Yang umurnya lima puluh tahun?”
Ive mengangguk.

Semua tertawa. Ada yang mengucapkan “tua-tua keladi”. Entah siapa. Ive tertawa juga. Segala macam kalimat pun meluncur deras dari bibir-bibir muda mereka. Silih berganti. Silang menyilang. Sampai handphone salah seorang berbunyi.

“Beib mau jemput sekarang? 15 menit lagi ya. Bawa mobil kan? Aku bertiga”.
Mereka lalu sibuk memilih sepatu. Surat itu, tidak jelas letaknya. Mungkin di bawah selimut, atau di atas dispenser, atau di dekat ember berisi pakaian kotor, atau...

Oleh: Abroorza Ahmad Yusra
Pontianak, Mei 2012 - See more at: http://news.okezone.com/read/2013/01/08/551/743075/kata-kata-dalam-sebuah-surat#sthash.HQNzzmLw.dpuf

Thursday, January 3, 2013

InfoAntiGalau - SEBUAH layar bergambar menempel di langit-langit kamar. Layar berbentuk persegi panjang berukuran 1 x 1,2 meter itu berisi gambar bergerak yang menampilkan resolusi warna yang sangat sempurna. Kukedipkan mataku, gambar layar berubah.

Ya, Televisi itu hanya membutuhkan kedipan mata untuk mengubah channel stasiun TV. Tidak seperti 10 tahun yang lalu, teknologi TV saat ini telah menggunakan perangkat canggih yang telah dihubungkan dengan sensor syaraf otak manusia. Sensor pada remote 10 tahun yang itu telah diganti dengan sensor cornea mata manusia. Melalui pemindaian yang telah di setting sebelumnya, antara cornea mata yang empunya TV dengan sensor otomatis pada TV, maka hanya dengan cornea mata yang telah discan lah yang bisa merespon teknologi sensorik ini.

Pesawat TV pun bentuknya sudah sangat berbeda dengan dulu. Boks TV hanya berukuran 10 x 15 Cm, yang diset sedemikian rupa sehingga mampu memproyeksikan gambar pada bidang datar yang ada, seperti alat proyektor LCD pada beberapa tahun yang lalu.

Kukedipkan mataku, channel pun berubah. Di layar tampak program TV yang secara substansi tidak banyak berubah dengan 10 tahun yang lalu. Sinetron, intertainment, reality show, audisi, berita, kuiz berhadiah adalah beberapa program yang banyak menghiasi stasiun TV swasta saat ini. Yang agak beda adalah jumlah stasiun TV yang menjamur seperti jamur dimusim penghujan. Bertambah banyak, karena hampir setiap tahun ada stasiun TV baru di launching.

Kuhentikan kedipanku pada acara berita sore, program kesayanganku pada saat santai sore hari seperti ini. Aku khitmad menyaksikan berita yang merupakan hasil reportase pagi hingga sore tadi. Kemarau panjang menjadi headline siaran berita di berbagai stasiun TV.

Upaya pencegahan global warming yang pada dasawarsa yang lalu ramai diperbincangkan ternyata tidak memberi effek nyata pada kehidupan saat ini. Ini buktinya, kemarau yang berkepanjangn di salah satu daerah di Jawa Tengah, di  sisi lain di salah satu daerah di Kalimantan terjadi banjir bandang yang luar bisa memorak-porandakan bangunan.

Dulu semua negara dengan angkuhnya berkumpul, mengadakan konferensi untuk menangani pemanasan global, tapi setelah 10 tahun, industri yang menghasilkan gas rumah kaca semakin bertambah pesat, intensitas pembakaran hutan untuk lahan pertanian juga semakin mengharu biru, belum lagi kasus illegal loging yang pelakunya melenggang dengan santai tanpa proses hukum, tentu saja karena sang pelaku punya backing-an pejabat penguasa negeri ini. “Kiamat sudah dekat,” batinku, meniru salah satu judul film yang sempat tren 10 tahun lalu.

Aku mungkin salah satu penduduk pribumi yang beruntung di negeri ini. Di saat pribumi yang lain makan nasi aking sebagai makanan pokoknya, aku bisa hidup bagaimana kehidupan orang kota pada umumnya. Di saat warga Negara Indonesia yang lain, mengantre makan dalam tenda-tenda pengungsian, aku yang lulusan S2 ini mampu makan dengan berbagi menu, sesuai selera.
*********

Seperti biasa, waktu yang di tunggu-tunggu oleh para marketing pun tiba. Ya berita harus jeda sejenak untuk iklan. Iklan lah pemilik kedaulatan atas negeri pertelevisian. Nah ini yang sangat kontras dengan 10 tahun yang lalu. Sama seperti dulu, iklan kosmetik masih merajai promosi di layar kaca.

Tampak seorang wanita bertubuh sintal memamerkan wajahnya yang tampak berseri setelah menggunakan sebuah lotion wajah. Setelah itu banyak para pemuda yang terkesima melihat wajah jelita gadis tersebut tanpa berkedip. Konsep iklan tidak jauh berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Di sinilah letak kontrasnya, kalau 10 tahun yang lalu lotion wajah itu bertuliskan “pemutih wajah” maka sekarang lotion tersebut bertulis “penghitam wajah”. Gadis bintang iklan tersebut adalah gadis berkulit hitam, seperti orang dari Indonesia bagian timur.

Ya......dunia telah berubah, entah mulai kapan. Yang jelas sejak Barack Obama, Presiden kulit hitam terpilih menjadi Presiden Amerika 10 tahun yang lalu dominasi kulit hitam sangat menonjol di Amerika. Bahkan, sampai saat ini, efek kulit hitam itu pun masih terasa. Titik balik di Amerika, salah satu Negara kiblat mode di dunia, juga menyebar ke seluruh penjuru dunia. Hatta di sini, di negeri Nusantara tercinta.

Tak pelak lagi, titik balik itu juga berlaku di Indonesia. Artis-artis, bintang sinetron, presenter, penyayi kebanyakan adalah orang-orang yang berlatar belakang kulit hitam. Orang-orang yang berkulit putih seakan mengalami sindrom “minder” yang 10 tahun dulu dialami orang kulit hitam. Yang agak beruntung adalah orang-orang melayu dan jawa. Ras yang kebanyakan berwarna kulit sawo matang ini mudah beradaptasi.

Dulu orang kulit coklat ini banyak berduyung-duyung ke salon kecantikan, untuk mengoperasi kulit sawonya sehingga menjadi putih bersih berkilau, seperti bunyi iklan pemutih waktu itu. Sekarang orang-orang Jawa ini membanting kompas, menghitamkan warna sawonya menjadi hitam arang. Yang tampak aneh, adalah orang yang dulu berkulit hitam. Karena tren waktu itu, mengubah kulitnya menjadi putih. Dan sekarang mengembalikannya lagi ke hitam lagi.

“Dunia sudah terbalik,” gumamku, sambil menggelengkan kepala. Inilah janji Tuhan,” Pada hari itu, akan Kami putar (nasib) manusia,” begitu inti sari salah satu ayat kitab suci, yang aku dengar beberapa waktu yang lalu dari Khotib Salat Jum’at.

Memang, hidup itu seperti komidi putar. Selalu berputar, kadang kita berada di posisi bawah, tengah, dan terkadang di puncak. Itulah sunnatullah, hukum alam. Gerakan anti apartheid yang dulu diperjuangkan tokoh kulit hitam Nelson Mandela di Afrika, atau Martin Luther King Jr di Amerika seakan mencapai titik kulminasinya. Dan sekarang, hari ini,  kaum kulit putih pun melakukan hal yang sama, membentuk gerakan –gerakan pembelaan terhadap diskriminasi ras. “Kekuasaan itu cenderung korup” begitu bunyi sebuah adagium. Nyatanya, ketika mayoritas berkuasa, merekapun menjadi sewenang-wenang, diskriminatif dan menindas minoritas.
*********

Kijang Inova berseri B 2328 BZ Keluar dari garasi. Setelah meninggalkan gerbang rumah yang cukup besar, seorang penjaga menutup kembali pintu gerbang tersebut. Di dalam Kijang Inova, duduk dua orang setengah baya di jok paling depan. Itulah aku dan istriku, yang pagi-pagi harus meninggalkan rumah menuju rutinitas kerja. Di kaca depan sebelah atas, terpampang jam digital kecil dengan format: jam, tanggal/bulan/tahun. Sambil menyetir, kulirikkan mataku ke arah jam berlayar merah itu.

”Sudah jam setengah tujuh,” kataku kepada istriku, sambil sesekali memandangnya. Hari ini Senin, 16 Juli 2018, adalah hari pertama kerja bagi Istriku, setelah beberapa minggu liburan panjang kenaikkan kelas. Istriku, seorang guru SMA Negeri di ibu kota harus sampai di sekolah tepat jam tujuh. Karena akan ada upacara bendera yang pertama di tahun ajaran baru.

Mobil berhenti karena lampu merah. Di hadapanku sebelah kanan, tampak baliho besar bergambar seorang gadis berkulit hitam tersenyum sambil membawa sebuah botol. Seakan berkata “Pakailah Lotion ini, maka wajah anda akan hitam berkilau seperti saya”. Ya, gadis itu membawa produk kecantikan bertuliskan “Punds, lotion penghitam wajah”. Di sampingnya tampak tulisan besar berbunyi “Buktikan dalam 7 Minggu Pemakaian, Rasakan Hasilnya!”.

“ Bune ingin seperti gadis itu?”, kataku menggoda sambil menunjuk ke arah baliho besar itu. “Walah Pakne, lha wong udah tua gini kok neka-neko,” jawabnya dengan logat Jawa kental. Maklum kami berdua asli Jawa Tengah, Kudus tepatnya. Karena Istriku diterima menjadi PNS di Jakarta 12 tahun yang lalu kami boyong ke Jakarta.

“ Iya ya Bune…, dunia sudah terbalik sekarang” gumamku, seakan prihatin.
“Tapi Pakne masih cinta kan sama Bune?”, tanyanya manja. “ Pakne masih suka kan sama wajahku yang sawo matang ini”, tambahnya menggoda. “Iya Bune, saya suka dengan wajah Bune yang alami. Dulu ketika orang berbondong-bondong memutihkan wajahnya ke salon, Bune tetap bertahan dengan wajah sawo matang agak bosok itu.

Ternyata Tuhan seakan menguji kita. Coba kalau dulu Bune tergiur dengan iklan pemutih itu, kan malu kita sama Tuhan…” paparku agak panjang. “ Iya Pakne… Gusti Allah memang maha adil. Gusti Allah menciptakan manusia dengan warna kulit yang berbeda adalah bukti keadilannya“, Jawab istriku, bangga. Seakan bersyukur dengan sepenuh  hati atas keadaannya selama ini.

Tak terasa SMA yang kami tuju telah ada di depan mata. Setelah istriku turun dan mencium tanganku, akupun memalingkan mobil dari SMA tersebut. “Cantik itu relatif, sesuai tren zamannya….” batinku, sambil tertawa kecil.

Kedung Banteng, pada suatu ketika

Muhamad Mustaqim

Dikutip dari: www.okezone.com

Ketika Cantik Itu Hitam

0 comments

InfoAntiGalau - SEBUAH layar bergambar menempel di langit-langit kamar. Layar berbentuk persegi panjang berukuran 1 x 1,2 meter itu berisi gambar bergerak yang menampilkan resolusi warna yang sangat sempurna. Kukedipkan mataku, gambar layar berubah.

Ya, Televisi itu hanya membutuhkan kedipan mata untuk mengubah channel stasiun TV. Tidak seperti 10 tahun yang lalu, teknologi TV saat ini telah menggunakan perangkat canggih yang telah dihubungkan dengan sensor syaraf otak manusia. Sensor pada remote 10 tahun yang itu telah diganti dengan sensor cornea mata manusia. Melalui pemindaian yang telah di setting sebelumnya, antara cornea mata yang empunya TV dengan sensor otomatis pada TV, maka hanya dengan cornea mata yang telah discan lah yang bisa merespon teknologi sensorik ini.

Pesawat TV pun bentuknya sudah sangat berbeda dengan dulu. Boks TV hanya berukuran 10 x 15 Cm, yang diset sedemikian rupa sehingga mampu memproyeksikan gambar pada bidang datar yang ada, seperti alat proyektor LCD pada beberapa tahun yang lalu.

Kukedipkan mataku, channel pun berubah. Di layar tampak program TV yang secara substansi tidak banyak berubah dengan 10 tahun yang lalu. Sinetron, intertainment, reality show, audisi, berita, kuiz berhadiah adalah beberapa program yang banyak menghiasi stasiun TV swasta saat ini. Yang agak beda adalah jumlah stasiun TV yang menjamur seperti jamur dimusim penghujan. Bertambah banyak, karena hampir setiap tahun ada stasiun TV baru di launching.

Kuhentikan kedipanku pada acara berita sore, program kesayanganku pada saat santai sore hari seperti ini. Aku khitmad menyaksikan berita yang merupakan hasil reportase pagi hingga sore tadi. Kemarau panjang menjadi headline siaran berita di berbagai stasiun TV.

Upaya pencegahan global warming yang pada dasawarsa yang lalu ramai diperbincangkan ternyata tidak memberi effek nyata pada kehidupan saat ini. Ini buktinya, kemarau yang berkepanjangn di salah satu daerah di Jawa Tengah, di  sisi lain di salah satu daerah di Kalimantan terjadi banjir bandang yang luar bisa memorak-porandakan bangunan.

Dulu semua negara dengan angkuhnya berkumpul, mengadakan konferensi untuk menangani pemanasan global, tapi setelah 10 tahun, industri yang menghasilkan gas rumah kaca semakin bertambah pesat, intensitas pembakaran hutan untuk lahan pertanian juga semakin mengharu biru, belum lagi kasus illegal loging yang pelakunya melenggang dengan santai tanpa proses hukum, tentu saja karena sang pelaku punya backing-an pejabat penguasa negeri ini. “Kiamat sudah dekat,” batinku, meniru salah satu judul film yang sempat tren 10 tahun lalu.

Aku mungkin salah satu penduduk pribumi yang beruntung di negeri ini. Di saat pribumi yang lain makan nasi aking sebagai makanan pokoknya, aku bisa hidup bagaimana kehidupan orang kota pada umumnya. Di saat warga Negara Indonesia yang lain, mengantre makan dalam tenda-tenda pengungsian, aku yang lulusan S2 ini mampu makan dengan berbagi menu, sesuai selera.
*********

Seperti biasa, waktu yang di tunggu-tunggu oleh para marketing pun tiba. Ya berita harus jeda sejenak untuk iklan. Iklan lah pemilik kedaulatan atas negeri pertelevisian. Nah ini yang sangat kontras dengan 10 tahun yang lalu. Sama seperti dulu, iklan kosmetik masih merajai promosi di layar kaca.

Tampak seorang wanita bertubuh sintal memamerkan wajahnya yang tampak berseri setelah menggunakan sebuah lotion wajah. Setelah itu banyak para pemuda yang terkesima melihat wajah jelita gadis tersebut tanpa berkedip. Konsep iklan tidak jauh berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Di sinilah letak kontrasnya, kalau 10 tahun yang lalu lotion wajah itu bertuliskan “pemutih wajah” maka sekarang lotion tersebut bertulis “penghitam wajah”. Gadis bintang iklan tersebut adalah gadis berkulit hitam, seperti orang dari Indonesia bagian timur.

Ya......dunia telah berubah, entah mulai kapan. Yang jelas sejak Barack Obama, Presiden kulit hitam terpilih menjadi Presiden Amerika 10 tahun yang lalu dominasi kulit hitam sangat menonjol di Amerika. Bahkan, sampai saat ini, efek kulit hitam itu pun masih terasa. Titik balik di Amerika, salah satu Negara kiblat mode di dunia, juga menyebar ke seluruh penjuru dunia. Hatta di sini, di negeri Nusantara tercinta.

Tak pelak lagi, titik balik itu juga berlaku di Indonesia. Artis-artis, bintang sinetron, presenter, penyayi kebanyakan adalah orang-orang yang berlatar belakang kulit hitam. Orang-orang yang berkulit putih seakan mengalami sindrom “minder” yang 10 tahun dulu dialami orang kulit hitam. Yang agak beruntung adalah orang-orang melayu dan jawa. Ras yang kebanyakan berwarna kulit sawo matang ini mudah beradaptasi.

Dulu orang kulit coklat ini banyak berduyung-duyung ke salon kecantikan, untuk mengoperasi kulit sawonya sehingga menjadi putih bersih berkilau, seperti bunyi iklan pemutih waktu itu. Sekarang orang-orang Jawa ini membanting kompas, menghitamkan warna sawonya menjadi hitam arang. Yang tampak aneh, adalah orang yang dulu berkulit hitam. Karena tren waktu itu, mengubah kulitnya menjadi putih. Dan sekarang mengembalikannya lagi ke hitam lagi.

“Dunia sudah terbalik,” gumamku, sambil menggelengkan kepala. Inilah janji Tuhan,” Pada hari itu, akan Kami putar (nasib) manusia,” begitu inti sari salah satu ayat kitab suci, yang aku dengar beberapa waktu yang lalu dari Khotib Salat Jum’at.

Memang, hidup itu seperti komidi putar. Selalu berputar, kadang kita berada di posisi bawah, tengah, dan terkadang di puncak. Itulah sunnatullah, hukum alam. Gerakan anti apartheid yang dulu diperjuangkan tokoh kulit hitam Nelson Mandela di Afrika, atau Martin Luther King Jr di Amerika seakan mencapai titik kulminasinya. Dan sekarang, hari ini,  kaum kulit putih pun melakukan hal yang sama, membentuk gerakan –gerakan pembelaan terhadap diskriminasi ras. “Kekuasaan itu cenderung korup” begitu bunyi sebuah adagium. Nyatanya, ketika mayoritas berkuasa, merekapun menjadi sewenang-wenang, diskriminatif dan menindas minoritas.
*********

Kijang Inova berseri B 2328 BZ Keluar dari garasi. Setelah meninggalkan gerbang rumah yang cukup besar, seorang penjaga menutup kembali pintu gerbang tersebut. Di dalam Kijang Inova, duduk dua orang setengah baya di jok paling depan. Itulah aku dan istriku, yang pagi-pagi harus meninggalkan rumah menuju rutinitas kerja. Di kaca depan sebelah atas, terpampang jam digital kecil dengan format: jam, tanggal/bulan/tahun. Sambil menyetir, kulirikkan mataku ke arah jam berlayar merah itu.

”Sudah jam setengah tujuh,” kataku kepada istriku, sambil sesekali memandangnya. Hari ini Senin, 16 Juli 2018, adalah hari pertama kerja bagi Istriku, setelah beberapa minggu liburan panjang kenaikkan kelas. Istriku, seorang guru SMA Negeri di ibu kota harus sampai di sekolah tepat jam tujuh. Karena akan ada upacara bendera yang pertama di tahun ajaran baru.

Mobil berhenti karena lampu merah. Di hadapanku sebelah kanan, tampak baliho besar bergambar seorang gadis berkulit hitam tersenyum sambil membawa sebuah botol. Seakan berkata “Pakailah Lotion ini, maka wajah anda akan hitam berkilau seperti saya”. Ya, gadis itu membawa produk kecantikan bertuliskan “Punds, lotion penghitam wajah”. Di sampingnya tampak tulisan besar berbunyi “Buktikan dalam 7 Minggu Pemakaian, Rasakan Hasilnya!”.

“ Bune ingin seperti gadis itu?”, kataku menggoda sambil menunjuk ke arah baliho besar itu. “Walah Pakne, lha wong udah tua gini kok neka-neko,” jawabnya dengan logat Jawa kental. Maklum kami berdua asli Jawa Tengah, Kudus tepatnya. Karena Istriku diterima menjadi PNS di Jakarta 12 tahun yang lalu kami boyong ke Jakarta.

“ Iya ya Bune…, dunia sudah terbalik sekarang” gumamku, seakan prihatin.
“Tapi Pakne masih cinta kan sama Bune?”, tanyanya manja. “ Pakne masih suka kan sama wajahku yang sawo matang ini”, tambahnya menggoda. “Iya Bune, saya suka dengan wajah Bune yang alami. Dulu ketika orang berbondong-bondong memutihkan wajahnya ke salon, Bune tetap bertahan dengan wajah sawo matang agak bosok itu.

Ternyata Tuhan seakan menguji kita. Coba kalau dulu Bune tergiur dengan iklan pemutih itu, kan malu kita sama Tuhan…” paparku agak panjang. “ Iya Pakne… Gusti Allah memang maha adil. Gusti Allah menciptakan manusia dengan warna kulit yang berbeda adalah bukti keadilannya“, Jawab istriku, bangga. Seakan bersyukur dengan sepenuh  hati atas keadaannya selama ini.

Tak terasa SMA yang kami tuju telah ada di depan mata. Setelah istriku turun dan mencium tanganku, akupun memalingkan mobil dari SMA tersebut. “Cantik itu relatif, sesuai tren zamannya….” batinku, sambil tertawa kecil.

Kedung Banteng, pada suatu ketika

Muhamad Mustaqim

Dikutip dari: www.okezone.com

Wednesday, January 2, 2013

InfoAntiGalau - Angin bertiup kencang ke arah seorang pria yang sedang duduk termenung beralaskan pasir pantai. Berangan-angan kejam dan imajinasi diluar batas. Dari bibirnya keluar setetes darah segar, yang kemudian ditepisnya dengan telunjuk tangan kanannya.  Pikirannya menerawang jauh dari bibir pantai, mengikuti pelarian ombak hingga ke dasar lautan yang luas dan dalam. Seakan mulai mencari-cari di kegelapan dasar lautan yang ia sendiri tahu bahwa ia tidak akan menemukan jawabannya. Ia teringat seorang gadis, berambut panjang hitam dan bermata cokelat. Ia mungkin tidak akan bisa menangkap jalan pikiran gadis itu. Ya! Ia memang bisa melewati batas pikiran setiap orang yang dilaluinya, terkecuali gadis itu.
Siapa gerangan gadis itu sebenarnya?, pikirnya dalam hati. Seketika ia melompat ke salah satu pohon dan melompat ke pohon lain dengan lincah dan secepat kilat sambil membawa pikirannya melompat-lompat bersamanya.
***
Keesokan harinya, Pukul 11 pagi. Depan loker.
“Mori, apa kau punya masalah denganku?”
“Aku rasa tidak, lalu kenapa? Bukankah kita baru saja kenal?”
“Hmm.. Sudahlah lupakan,”
“Tunggu! Kau ini aneh. Memang ada apa denganku?”
Juno tidak menjawab, ia malah bergegas pergi bak orang salah tingkah.
“Juno, tunggu!” ujar Mori berusaha menghentikan langkah Juno. Saat itu, Juno hanya membalikkan badan sambil tersenyum tipis , pergi meninggalkan bayang-bayangnya yang misterius dan sejuta tanya di hati Mori.
Tiba-tiba dari arah sebaliknya, Gina, kawan barunya menepuk pundaknya dan mengagetkan lamunan Mori yang masih menatap bayangan Juno.
“Hey, Gin! Gina, aku mau tanya sesuatu. Apa kau merasakan ada sesuatu yang aneh pada Juno?”
“Hmmm, Juno ya? Ya, yang aku tahu selama ini ya dia itu salah satu putra angkat keluarga Wiradiningrat, dia punya saudara-saudara yang selalu bersama kemanapun mereka pergi. Yah, memang ada yang ganjal sih dalam penampilan mereka. Tapi, aku rasa mereka semua baik. Memang ada apa Mor?”
Mori hanya tersenyum simpul mendengar penjelasan kawan barunya itu, lalu menjawab dengan kikuk.
“Oh gitu ya… Hmm, tidak apa-apa kok. Cuma ingin tanya aja,”
***
Pukul 2 siang. Di laboratorium.
“Hey, apa kita satu kelompok?”, tanya Juno berusaha ramah dan melupakan kejadian kemarin.
“Ya, aku rasa begitu. Ayo, kita selesaikan tugas ini,” ujar Mori tegas.
Sesaat Mori merasa ada yang mengganjal di hati dan pikirannya. Ia menatap lekat-lekat pria yang ada di sampingnya, berusaha menelanjangi pria itu dari bawah hingga atas dan dari luar hingga dalam. Pikiran dan hati Mori berusaha menerka-nerka makhluk macam apa yang sebenarnya dia tengah hadapi saat ini.
Tidak berbeda dengan Mori, Juno juga melakukan hal yang sama. Ia mulai melirik ke arah mata coklat Mori, siapa tahu ia bisa membaca sesuatu di mata gadis itu. Tapi, hasilnya nihil. Ia sama sekali tidak bisa membaca apapun.
Keduanya saling berpandangan. Saling berusaha menemukan sesuatu yang mungkin bisa dijadikan bahan interogasi. Setelah mereka tersadar atas apa yang mereka tengah lakukan, mereka kembali menyibukkan diri masing-masing dan mulai melakukan eksperimen pada tugas biologi mereka.
“Juno, kau terlihat pucat. Kau sakit?”
“Oh apa iya begitu? Tidak, aku sama sekali tidak sakit. Aku sehat,”
“Oh oke kalau begitu. Juno, aku mau tanya sesuatu. Pada saat kau menolongku tempo hari, apa kau benar-benar berlari secepat itu?”
“Maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti. Aku memang kebetulan sedang berada di dekatmu,”
“Tidak, jarakmu pada saat itu cukup jauh. Aku melihatmu sedang di dekat tangga menuju lobi dengan saudara-saudaramu. Sedangkan aku, waktu itu aku sedang di tempat parkir. Kita sama-sama tahu jarak seperti itu cukup jauh, bukan?”
“Umm.. Aku rasa kau mungkin hanya berhalusinasi, mungkin kau masih shock,”
“Begitu ya? Baiklah,” ujar Mori yang sebenarnya belum puas mendengar jawaban Juno barusan.
***
Pukul 6 Sore. Pantai.
Mori duduk terdiam di bibir pantai, membiarkan kakinya yang putih bersih dijilat oleh deburan kecil ombak pantai. Ia berpikir bahwa mungkin ia dapat ikut ke dalam komplotan ombak dan tenggelam ke dasar lautan yang dalam.  Ia membayangkan dirinya terjebak di antara kegelapan yang merajalela dan secercah cahaya yang mulai tenggelam. Sangat sulit untuk keluar.
Mori bergegas memakai sepatunya dan hendak pulang ke rumah karena hari sudah mulai gelap. Saat itu suasana pantai menjadi terasa sunyi, lembab dan diliputi hawa misterius yang kapan saja bisa melahap jiwa-jiwa bahagia dan mengubahnya menjadi derita. Dan Mori tidak ingin hal itu terjadi padanya. Saat ia membalikkan badan, ia mendapati dirinya tengah di hadang oleh seorang pria yang ia kenal. Ya! Dia adalah Juno.  Namun Juno terlihat berbeda, seperti biasa terlihat darah segar yang bekas di hapus menempel di sudut bibirnya. Mori tersentak kaget tak percaya melihat makhluk yang ada di hadapannya.
“Jadi, kau ini?”
“Ya! Aku bukan manusia seutuhnya seperti kau. Tapi tenang, aku hanya minum itu dari hewan-hewan di sekitar hutan dekat pantai dan aku hanya beraksi di kala malam menjelang. Aku harap kau bisa menyembunyikan hal ini dari siapapun,” (Putri Nurfitriyana)

Sumber: Kompasiana

Sepenggal Kisah Senjakala

0 comments

InfoAntiGalau - Angin bertiup kencang ke arah seorang pria yang sedang duduk termenung beralaskan pasir pantai. Berangan-angan kejam dan imajinasi diluar batas. Dari bibirnya keluar setetes darah segar, yang kemudian ditepisnya dengan telunjuk tangan kanannya.  Pikirannya menerawang jauh dari bibir pantai, mengikuti pelarian ombak hingga ke dasar lautan yang luas dan dalam. Seakan mulai mencari-cari di kegelapan dasar lautan yang ia sendiri tahu bahwa ia tidak akan menemukan jawabannya. Ia teringat seorang gadis, berambut panjang hitam dan bermata cokelat. Ia mungkin tidak akan bisa menangkap jalan pikiran gadis itu. Ya! Ia memang bisa melewati batas pikiran setiap orang yang dilaluinya, terkecuali gadis itu.
Siapa gerangan gadis itu sebenarnya?, pikirnya dalam hati. Seketika ia melompat ke salah satu pohon dan melompat ke pohon lain dengan lincah dan secepat kilat sambil membawa pikirannya melompat-lompat bersamanya.
***
Keesokan harinya, Pukul 11 pagi. Depan loker.
“Mori, apa kau punya masalah denganku?”
“Aku rasa tidak, lalu kenapa? Bukankah kita baru saja kenal?”
“Hmm.. Sudahlah lupakan,”
“Tunggu! Kau ini aneh. Memang ada apa denganku?”
Juno tidak menjawab, ia malah bergegas pergi bak orang salah tingkah.
“Juno, tunggu!” ujar Mori berusaha menghentikan langkah Juno. Saat itu, Juno hanya membalikkan badan sambil tersenyum tipis , pergi meninggalkan bayang-bayangnya yang misterius dan sejuta tanya di hati Mori.
Tiba-tiba dari arah sebaliknya, Gina, kawan barunya menepuk pundaknya dan mengagetkan lamunan Mori yang masih menatap bayangan Juno.
“Hey, Gin! Gina, aku mau tanya sesuatu. Apa kau merasakan ada sesuatu yang aneh pada Juno?”
“Hmmm, Juno ya? Ya, yang aku tahu selama ini ya dia itu salah satu putra angkat keluarga Wiradiningrat, dia punya saudara-saudara yang selalu bersama kemanapun mereka pergi. Yah, memang ada yang ganjal sih dalam penampilan mereka. Tapi, aku rasa mereka semua baik. Memang ada apa Mor?”
Mori hanya tersenyum simpul mendengar penjelasan kawan barunya itu, lalu menjawab dengan kikuk.
“Oh gitu ya… Hmm, tidak apa-apa kok. Cuma ingin tanya aja,”
***
Pukul 2 siang. Di laboratorium.
“Hey, apa kita satu kelompok?”, tanya Juno berusaha ramah dan melupakan kejadian kemarin.
“Ya, aku rasa begitu. Ayo, kita selesaikan tugas ini,” ujar Mori tegas.
Sesaat Mori merasa ada yang mengganjal di hati dan pikirannya. Ia menatap lekat-lekat pria yang ada di sampingnya, berusaha menelanjangi pria itu dari bawah hingga atas dan dari luar hingga dalam. Pikiran dan hati Mori berusaha menerka-nerka makhluk macam apa yang sebenarnya dia tengah hadapi saat ini.
Tidak berbeda dengan Mori, Juno juga melakukan hal yang sama. Ia mulai melirik ke arah mata coklat Mori, siapa tahu ia bisa membaca sesuatu di mata gadis itu. Tapi, hasilnya nihil. Ia sama sekali tidak bisa membaca apapun.
Keduanya saling berpandangan. Saling berusaha menemukan sesuatu yang mungkin bisa dijadikan bahan interogasi. Setelah mereka tersadar atas apa yang mereka tengah lakukan, mereka kembali menyibukkan diri masing-masing dan mulai melakukan eksperimen pada tugas biologi mereka.
“Juno, kau terlihat pucat. Kau sakit?”
“Oh apa iya begitu? Tidak, aku sama sekali tidak sakit. Aku sehat,”
“Oh oke kalau begitu. Juno, aku mau tanya sesuatu. Pada saat kau menolongku tempo hari, apa kau benar-benar berlari secepat itu?”
“Maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti. Aku memang kebetulan sedang berada di dekatmu,”
“Tidak, jarakmu pada saat itu cukup jauh. Aku melihatmu sedang di dekat tangga menuju lobi dengan saudara-saudaramu. Sedangkan aku, waktu itu aku sedang di tempat parkir. Kita sama-sama tahu jarak seperti itu cukup jauh, bukan?”
“Umm.. Aku rasa kau mungkin hanya berhalusinasi, mungkin kau masih shock,”
“Begitu ya? Baiklah,” ujar Mori yang sebenarnya belum puas mendengar jawaban Juno barusan.
***
Pukul 6 Sore. Pantai.
Mori duduk terdiam di bibir pantai, membiarkan kakinya yang putih bersih dijilat oleh deburan kecil ombak pantai. Ia berpikir bahwa mungkin ia dapat ikut ke dalam komplotan ombak dan tenggelam ke dasar lautan yang dalam.  Ia membayangkan dirinya terjebak di antara kegelapan yang merajalela dan secercah cahaya yang mulai tenggelam. Sangat sulit untuk keluar.
Mori bergegas memakai sepatunya dan hendak pulang ke rumah karena hari sudah mulai gelap. Saat itu suasana pantai menjadi terasa sunyi, lembab dan diliputi hawa misterius yang kapan saja bisa melahap jiwa-jiwa bahagia dan mengubahnya menjadi derita. Dan Mori tidak ingin hal itu terjadi padanya. Saat ia membalikkan badan, ia mendapati dirinya tengah di hadang oleh seorang pria yang ia kenal. Ya! Dia adalah Juno.  Namun Juno terlihat berbeda, seperti biasa terlihat darah segar yang bekas di hapus menempel di sudut bibirnya. Mori tersentak kaget tak percaya melihat makhluk yang ada di hadapannya.
“Jadi, kau ini?”
“Ya! Aku bukan manusia seutuhnya seperti kau. Tapi tenang, aku hanya minum itu dari hewan-hewan di sekitar hutan dekat pantai dan aku hanya beraksi di kala malam menjelang. Aku harap kau bisa menyembunyikan hal ini dari siapapun,” (Putri Nurfitriyana)

Sumber: Kompasiana

Tuesday, January 1, 2013

Kugendong Kau Sampai Ajal Menjemput
Ku-klik - Suatu malam ketika aku kembali ke rumah, istriku menghidangkan makan malam untukku. Sambil memegang tangannya aku berkata, “Saya ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Istriku lalu duduk di samping sambil menemaniku menikmati makan malam dengan tenang. Tiba-tiba aku tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Kata-kata rasanya berat keluar dari mulutku.

Aku ingin sebuah perceraian di antara kami, karena itu aku beranikan diriku. Nampaknya dia tidak terganggu sama sekali dengan pembicaraanku, dia malah balik bertanya kepadaku dengan tenang, “Mengapa?” Aku menolak menjawabnya, ini membuatnya sungguh marah kepadaku. Malam itu kami tidak saling bertegur sapa. Dia terus menangis dan menangis. Aku tahu bahwa dia ingin tahu alasan di balik keinginanku untuk bercerai.

Dengan sebuah rasa bersalah yang dalam, aku membuat sebuah pernyataan persetujuan untuk bercerai dan dia dapat memiliki rumah kami, mobil, dan 30% dari keuntungan perusahaan kami.
Dia sungguh marah dan merobek kertas itu. Wanita yang telah menghabiskan 10 tahun hidupnya bersamaku itu telah menjadi orang yang asing di hatiku.
Aku minta maaf kepadanya karena dia telah membuang waktunya 10 tahun bersamaku, untuk semua usaha dan energi yang diberikan kepadaku, tapi aku tidak dapat menarik kembali apa yang telah kukatakan kepada Jane, wanita simpananku, bahwa aku sungguh mencintainya. Istriku menangis lagi.
Bagiku tangisannya sekarang tidak berarti apa-apa lagi. Keinginanku untuk bercerai telah bulat.

Hari berikutnya, ketika aku kembali ke rumah sedikit larut, kutemukan dia sedang menulis sesuatu di atas meja di ruang tidur kami. Aku tidak makan malam tapi langsung pergi tidur karena ngantuk yang tak tertahankan akibat rasa capai sesudah seharian bertemu dengan Jane. Ketika terbangun, kulihat dia masih duduk di samping meja itu sambil melanjutkan tulisannya. Aku tidak menghiraukannya dan kembali meneruskan tidurku.

Pagi harinya, dia menyerahkan syarat-syarat perceraian yang telah ditulisnya sejak semalam kepadaku. Dia tidak menginginkan sesuatupun dariku, tetapi hanya membutuhkan waktu sebulan sebelum perceraian.
Dia memintaku dalam sebulan itu, kami berdua harus berjuang untuk hidup normal layaknya suami istri. Alasannya sangat sederhana. Putra kami akan menjalani ujian dalam bulan itu sehingga dia tidak ingin mengganggunya dengan rencana perceraian kami. Selain itu, dia juga meminta agar aku harus menggendongnya sambil mengenang kembali saat pesta pernikahan kami.
Dia memintaku untuk menggendongnya selama sebulan itu dari kamar tidur sampai muka depan pintu setiap pagi.
Aku pikir dia sudah gila. Akan tetapi, biarlah kucoba untuk membuat hari-hari terakhir kami menjadi indah demi perceraian yang kuinginkan, aku pun menyetujui syarat-syarat yang dia berikan.
Aku menceritakan kepada Jane tentang hal itu. Jane tertawa terbahak-bahak mendengarnya. “Terserah saja apa yang menjadi tuntutannya tapi yang pasti dia akan menghadapi perceraian yang telah kita rencanakan,” kata Jane.

Ada rasa kaku saat menggendongnya untuk pertama kali, karena kami memang tak pernah lagi melakukan hubungan suami istri belakangan ini. Putra kami melihatnya dan bertepuk tangan di belakang kami. “Wow, papa sedang menggendong mama.” Sambil memelukku dengan erat, istriku berkata, “Jangan beritahukan perceraian ini kepada putra kita.” Aku menurunkannya di depan pintu. Dia lalu pergi ke depan rumah untuk menunggu bus yang akan membawanya ke tempat kerjanya, sedangkan aku mengendarai mobil sendirian ke kantorku.

Pada hari kedua, kami berdua melakukannya dengan lebih mudah. Dia merapat melekat erat di dadaku. Aku dapat mencium dan merasakan keharuman tubuhnya. Aku menyadari bahwa aku tidak memperhatikan wanita ini dengan seksama untuk waktu yang agak lama. Aku menyadari bahwa dia tidak muda seperti dulu lagi, ada bintik-bintik kecil di wajahnya, rambutnya pun sudah mulai beruban. Namun entah kenapa, hal itu membuatku mengingat bagaimana pernikahan kami dulu.

Pada hari keempat, ketika aku menggendongnya, aku mulai merasakan kedekatan. Inilah wanita yang telah memberi dan mengorbankan 10 tahun kehidupannya untukku. Pada hari keenam dan ketujuh, aku mulai menyadari bahwa kedekatan kami sebagai suami istri mulai tumbuh kembali di hatiku. Aku tentu tidak mengatakan perasaan ini kepada Jane.

Suatu hari, aku memperhatikan dia sedang memilih pakaian yang hendak dia kenakan. Dia mencoba beberapa darinya tapi tidak menemukan satu pun yang cocok untuknya. Dia sedikit mengeluh, “Semua pakaianku terasa terlalu besar untuk tubuhku sekarang.” Aku mulai menyadari bahwa dia semakin kurus dan itulah sebabnya kenapa aku dapat dengan mudah menggendongnya. Aku menyadari bahwa dia telah memendam banyak luka dan kepahitan hidup di hatinya. Aku lalu mengulurkan tanganku dan menyentuh kepalanya.

Tiba-tiba putra kami muncul dan berkata,” Papa, sekarang saatnya untuk menggendong dan membawa mama.” Bagi putraku, melihatku menggendong dan membawa mamanya menjadi peristiwa yang penting dalam hidupnya. Istriku mendekati putra kami dan memeluk erat tubuhnya penuh keharuan. Aku memalingkan wajahku dari peristiwa yang bisa mempengaruhi dan mengubah keputusanku untuk bercerai.
Aku lalu mengangkatnya dengan kedua tanganku, berjalan dari kamar tidur kami, melalui ruang santai sampai ke pintu depan. Tangannya melingkar erat di leherku dengan lembut dan sangat romantis layaknya suami istri yang harmonis. Aku pun memeluk erat tubuhnya, seperti momen hari pernikahan kami 10 tahun yang lalu. Akan tetapi tubuhnya yang sekarang ringan membuatku sedih.

Pada hari terakhir, aku menggendongnya dengan kedua lenganku. Aku susah bergerak meski cuma selangkah ke depan. Putra kami telah pergi ke sekolah. Aku memeluknya erat sambil berkata, “Aku tidak pernah memperhatikan selama ini hidup pernikahan kita telah kehilangan keintiman satu dengan yang lain.”
Aku mengendarai sendiri kendaraan ke kantorku, mampir ke tempat Jane. Melompat keluar dari mobilku tanpa mengunci pintunya. Begitu cepatnya karena aku takut jangan sampai ada sesuatu yang membuatku mengubah pikiranku. Aku naik ke lantai atas. Jane membuka pintu dan aku langsung berkata padanya. “Maaf Jane, aku tidak ingin menceraikan istriku.”

Jane memandangku penuh tanda tanya bercampur keheranan dan kemudian menyentuh dahiku dengan jarinya. Aku mengelak dan berkata, “Maaf Jane, aku tidak akan bercerai. Hidup perkawinanku terasa membosankan karena dia dan aku tidak memaknai setiap momen kehidupan kami, bukan karena kami tidak saling mencintai satu sama lain. Sekarang aku menyadari sejak aku menggendongnya sebagai syaratnya itu, aku ingin terus menggendongnya sampai hari kematian kami.”

Jane sangat kaget mendengar jawabanku. Dia menamparku dan kemudian membanting pintu dengan keras. Aku tidak menghiraukannya. Aku menuruni tangga dan mengendarai mobilku pergi menjauhinya. Aku singgah di sebuah toko bunga di sepanjang jalan itu, aku memesan bunga untuk istriku. Gadis penjual bunga bertanya apa yang harus kutulis di kartunya. Aku tersenyum dan menulis, “Aku akan menggendongmu setiap pagi sampai kematian menjemput.”

Petang hari ketika aku tiba di rumah, dengan bunga di tanganku, sebuah senyum menghias wajahku. Aku berlari hanya untuk bertemu dengan istriku dan menyerahkan bunga itu sambil merangkulnya untuk memulai sesuatu yang baru dalam perkawinan kami. Tapi apa yang kutemukan? Istriku telah meninggal di atas tempat tidur yang telah kami tempati bersama 10 tahun pernikahan kami.

Aku baru tahu kalau istriku selama ini berjuang melawan kanker ganas yang telah menyerangnya berbulan-bulan tanpa pengetahuanku karena kesibukanku menjalin hubungan asmara dengan Jane. Istriku tahu bahwa dia akan meninggal dalam waktu yang relatif singkat.
Meskipun begitu, dia ingin menyelamatkanku dari pandangan negatif yang mungkin lahir dari putra kami karena aku menginginkan perceraian, karena reaksi kebodohanku sebagai seorang suami dan ayah, untuk menceraikan wanita yang telah berkorban selama sepuluh tahun yang mempertahankan pernikahan kami dan demi putra kami.

Betapa berharganya sebuah pernikahan saat kita bisa melihat atau mengingat apa yang membuatnya berharga. Ingat ketika dulu perjuangan yang harus dilakukan, ingat tentang kejadian-kejadian yang telah terjadi di antara kalian, ingat juga tentang janji pernikahan yang telah dikatakan. Semuanya itu harusnya hanya berakhir saat maut memisahkan.
——————
Sekecil apapun dari peristiwa atau hal dalam hidup sangat mempengaruhi hubungan kita. Itu bukan tergantung pada uang di bank, mobil atau kekayaan apapun namanya. Semuanya ini bisa menciptakan peluang untuk menggapai kebahagiaan tapi sangat pasti bahwa mereka tidak bisa memberikan kebahagiaan itu dari diri mereka sendiri. Suami-istrilah yang harus saling memberi demi kebahagiaan itu.

Karena itu, selalu dan selamanya jadilah teman bagi pasanganmu dan buatlah hal-hal yang kecil untuknya yang dapat membangun dan memperkuat hubungan dan keakraban di dalam hidup perkawinanmu. Milikilah sebuah perkawinan yang bahagia. Kamu pasti bisa mendapatkannya.

Sumber: BLOGSERBA

Kugendong Kau Sampai Ajal Menjemput

0 comments

Kugendong Kau Sampai Ajal Menjemput
Ku-klik - Suatu malam ketika aku kembali ke rumah, istriku menghidangkan makan malam untukku. Sambil memegang tangannya aku berkata, “Saya ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Istriku lalu duduk di samping sambil menemaniku menikmati makan malam dengan tenang. Tiba-tiba aku tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Kata-kata rasanya berat keluar dari mulutku.

Aku ingin sebuah perceraian di antara kami, karena itu aku beranikan diriku. Nampaknya dia tidak terganggu sama sekali dengan pembicaraanku, dia malah balik bertanya kepadaku dengan tenang, “Mengapa?” Aku menolak menjawabnya, ini membuatnya sungguh marah kepadaku. Malam itu kami tidak saling bertegur sapa. Dia terus menangis dan menangis. Aku tahu bahwa dia ingin tahu alasan di balik keinginanku untuk bercerai.

Dengan sebuah rasa bersalah yang dalam, aku membuat sebuah pernyataan persetujuan untuk bercerai dan dia dapat memiliki rumah kami, mobil, dan 30% dari keuntungan perusahaan kami.
Dia sungguh marah dan merobek kertas itu. Wanita yang telah menghabiskan 10 tahun hidupnya bersamaku itu telah menjadi orang yang asing di hatiku.
Aku minta maaf kepadanya karena dia telah membuang waktunya 10 tahun bersamaku, untuk semua usaha dan energi yang diberikan kepadaku, tapi aku tidak dapat menarik kembali apa yang telah kukatakan kepada Jane, wanita simpananku, bahwa aku sungguh mencintainya. Istriku menangis lagi.
Bagiku tangisannya sekarang tidak berarti apa-apa lagi. Keinginanku untuk bercerai telah bulat.

Hari berikutnya, ketika aku kembali ke rumah sedikit larut, kutemukan dia sedang menulis sesuatu di atas meja di ruang tidur kami. Aku tidak makan malam tapi langsung pergi tidur karena ngantuk yang tak tertahankan akibat rasa capai sesudah seharian bertemu dengan Jane. Ketika terbangun, kulihat dia masih duduk di samping meja itu sambil melanjutkan tulisannya. Aku tidak menghiraukannya dan kembali meneruskan tidurku.

Pagi harinya, dia menyerahkan syarat-syarat perceraian yang telah ditulisnya sejak semalam kepadaku. Dia tidak menginginkan sesuatupun dariku, tetapi hanya membutuhkan waktu sebulan sebelum perceraian.
Dia memintaku dalam sebulan itu, kami berdua harus berjuang untuk hidup normal layaknya suami istri. Alasannya sangat sederhana. Putra kami akan menjalani ujian dalam bulan itu sehingga dia tidak ingin mengganggunya dengan rencana perceraian kami. Selain itu, dia juga meminta agar aku harus menggendongnya sambil mengenang kembali saat pesta pernikahan kami.
Dia memintaku untuk menggendongnya selama sebulan itu dari kamar tidur sampai muka depan pintu setiap pagi.
Aku pikir dia sudah gila. Akan tetapi, biarlah kucoba untuk membuat hari-hari terakhir kami menjadi indah demi perceraian yang kuinginkan, aku pun menyetujui syarat-syarat yang dia berikan.
Aku menceritakan kepada Jane tentang hal itu. Jane tertawa terbahak-bahak mendengarnya. “Terserah saja apa yang menjadi tuntutannya tapi yang pasti dia akan menghadapi perceraian yang telah kita rencanakan,” kata Jane.

Ada rasa kaku saat menggendongnya untuk pertama kali, karena kami memang tak pernah lagi melakukan hubungan suami istri belakangan ini. Putra kami melihatnya dan bertepuk tangan di belakang kami. “Wow, papa sedang menggendong mama.” Sambil memelukku dengan erat, istriku berkata, “Jangan beritahukan perceraian ini kepada putra kita.” Aku menurunkannya di depan pintu. Dia lalu pergi ke depan rumah untuk menunggu bus yang akan membawanya ke tempat kerjanya, sedangkan aku mengendarai mobil sendirian ke kantorku.

Pada hari kedua, kami berdua melakukannya dengan lebih mudah. Dia merapat melekat erat di dadaku. Aku dapat mencium dan merasakan keharuman tubuhnya. Aku menyadari bahwa aku tidak memperhatikan wanita ini dengan seksama untuk waktu yang agak lama. Aku menyadari bahwa dia tidak muda seperti dulu lagi, ada bintik-bintik kecil di wajahnya, rambutnya pun sudah mulai beruban. Namun entah kenapa, hal itu membuatku mengingat bagaimana pernikahan kami dulu.

Pada hari keempat, ketika aku menggendongnya, aku mulai merasakan kedekatan. Inilah wanita yang telah memberi dan mengorbankan 10 tahun kehidupannya untukku. Pada hari keenam dan ketujuh, aku mulai menyadari bahwa kedekatan kami sebagai suami istri mulai tumbuh kembali di hatiku. Aku tentu tidak mengatakan perasaan ini kepada Jane.

Suatu hari, aku memperhatikan dia sedang memilih pakaian yang hendak dia kenakan. Dia mencoba beberapa darinya tapi tidak menemukan satu pun yang cocok untuknya. Dia sedikit mengeluh, “Semua pakaianku terasa terlalu besar untuk tubuhku sekarang.” Aku mulai menyadari bahwa dia semakin kurus dan itulah sebabnya kenapa aku dapat dengan mudah menggendongnya. Aku menyadari bahwa dia telah memendam banyak luka dan kepahitan hidup di hatinya. Aku lalu mengulurkan tanganku dan menyentuh kepalanya.

Tiba-tiba putra kami muncul dan berkata,” Papa, sekarang saatnya untuk menggendong dan membawa mama.” Bagi putraku, melihatku menggendong dan membawa mamanya menjadi peristiwa yang penting dalam hidupnya. Istriku mendekati putra kami dan memeluk erat tubuhnya penuh keharuan. Aku memalingkan wajahku dari peristiwa yang bisa mempengaruhi dan mengubah keputusanku untuk bercerai.
Aku lalu mengangkatnya dengan kedua tanganku, berjalan dari kamar tidur kami, melalui ruang santai sampai ke pintu depan. Tangannya melingkar erat di leherku dengan lembut dan sangat romantis layaknya suami istri yang harmonis. Aku pun memeluk erat tubuhnya, seperti momen hari pernikahan kami 10 tahun yang lalu. Akan tetapi tubuhnya yang sekarang ringan membuatku sedih.

Pada hari terakhir, aku menggendongnya dengan kedua lenganku. Aku susah bergerak meski cuma selangkah ke depan. Putra kami telah pergi ke sekolah. Aku memeluknya erat sambil berkata, “Aku tidak pernah memperhatikan selama ini hidup pernikahan kita telah kehilangan keintiman satu dengan yang lain.”
Aku mengendarai sendiri kendaraan ke kantorku, mampir ke tempat Jane. Melompat keluar dari mobilku tanpa mengunci pintunya. Begitu cepatnya karena aku takut jangan sampai ada sesuatu yang membuatku mengubah pikiranku. Aku naik ke lantai atas. Jane membuka pintu dan aku langsung berkata padanya. “Maaf Jane, aku tidak ingin menceraikan istriku.”

Jane memandangku penuh tanda tanya bercampur keheranan dan kemudian menyentuh dahiku dengan jarinya. Aku mengelak dan berkata, “Maaf Jane, aku tidak akan bercerai. Hidup perkawinanku terasa membosankan karena dia dan aku tidak memaknai setiap momen kehidupan kami, bukan karena kami tidak saling mencintai satu sama lain. Sekarang aku menyadari sejak aku menggendongnya sebagai syaratnya itu, aku ingin terus menggendongnya sampai hari kematian kami.”

Jane sangat kaget mendengar jawabanku. Dia menamparku dan kemudian membanting pintu dengan keras. Aku tidak menghiraukannya. Aku menuruni tangga dan mengendarai mobilku pergi menjauhinya. Aku singgah di sebuah toko bunga di sepanjang jalan itu, aku memesan bunga untuk istriku. Gadis penjual bunga bertanya apa yang harus kutulis di kartunya. Aku tersenyum dan menulis, “Aku akan menggendongmu setiap pagi sampai kematian menjemput.”

Petang hari ketika aku tiba di rumah, dengan bunga di tanganku, sebuah senyum menghias wajahku. Aku berlari hanya untuk bertemu dengan istriku dan menyerahkan bunga itu sambil merangkulnya untuk memulai sesuatu yang baru dalam perkawinan kami. Tapi apa yang kutemukan? Istriku telah meninggal di atas tempat tidur yang telah kami tempati bersama 10 tahun pernikahan kami.

Aku baru tahu kalau istriku selama ini berjuang melawan kanker ganas yang telah menyerangnya berbulan-bulan tanpa pengetahuanku karena kesibukanku menjalin hubungan asmara dengan Jane. Istriku tahu bahwa dia akan meninggal dalam waktu yang relatif singkat.
Meskipun begitu, dia ingin menyelamatkanku dari pandangan negatif yang mungkin lahir dari putra kami karena aku menginginkan perceraian, karena reaksi kebodohanku sebagai seorang suami dan ayah, untuk menceraikan wanita yang telah berkorban selama sepuluh tahun yang mempertahankan pernikahan kami dan demi putra kami.

Betapa berharganya sebuah pernikahan saat kita bisa melihat atau mengingat apa yang membuatnya berharga. Ingat ketika dulu perjuangan yang harus dilakukan, ingat tentang kejadian-kejadian yang telah terjadi di antara kalian, ingat juga tentang janji pernikahan yang telah dikatakan. Semuanya itu harusnya hanya berakhir saat maut memisahkan.
——————
Sekecil apapun dari peristiwa atau hal dalam hidup sangat mempengaruhi hubungan kita. Itu bukan tergantung pada uang di bank, mobil atau kekayaan apapun namanya. Semuanya ini bisa menciptakan peluang untuk menggapai kebahagiaan tapi sangat pasti bahwa mereka tidak bisa memberikan kebahagiaan itu dari diri mereka sendiri. Suami-istrilah yang harus saling memberi demi kebahagiaan itu.

Karena itu, selalu dan selamanya jadilah teman bagi pasanganmu dan buatlah hal-hal yang kecil untuknya yang dapat membangun dan memperkuat hubungan dan keakraban di dalam hidup perkawinanmu. Milikilah sebuah perkawinan yang bahagia. Kamu pasti bisa mendapatkannya.

Sumber: BLOGSERBA

Monday, December 31, 2012

InfoAntiGalau - Malam ini tepat pukul 22.00 wib, itu artinya sebentar lagi handphone ini akan segera bergetar. Aku berlari mengutak-atik seisi kamar mencari dimana Hapeku. Berhasil. Aku menemukannya dibawah bantal. Suasana hati semakin tak menentu. keringat mulai mengucur perlahan. Haahh… umpatku kesal. Selalu seperti ini. padahal setiap malamnya aku sudah belajar membiasakan diri, tapi tetap saja hasilnya, nol besar.
Mataku tak henti melirik layar di hape keluaran tahun 2008 silam. Super norak banget. Sekarang udah tahun 2013, udah jamannya pakai android, BB, Ipad, Iphone, atau apalah namanya, aku juga tidak tau pasti, yang penting apapun itu jenisnya, aku bersyukur bisa memiliki hape super norak ini, udah lampu layarnya tidak bisa hidup, ditambah lagi dengan Nada deringnya yang kadang muncul kadang enggak. Aku maklum. Dulu, handphone ini sempat tercebur ke airlaut, makanya jadi gini.
Pukul 22.15 wib. Sudah lewat 15 menit dari waktu yang diduga, tapi pertanda ada telepon masuk ataupun SMS belum juga terlihat. Aku semakin was-was. Apa dia lupa dengan malam ini?? hatiku mulai bertanya-tanya. Aku bangun dari tempat tidur. Berdiri, mondar-mandir didepan kaca, dan kemudian berbaring lagi di tempat tidur. Begitu berulang kali hingga pukul 22.32 wib. Aku semakin kesal. Udah lewat 32 menit tapi belum ada kabar juga, padahal sudah seharusnya ada kabar. Aku terus mengumpat dalam hati, bertanya-tanya dan kemudian berdiri lagi, mondar-mandir lagi dan akhirnya berbaring lagi sambil menelungkupkan wajah di bantal. Entah sudah yang keberapa kalinya aku melakukan ritual bodoh ini. aaarrrggghhh….
Tiiit…tiiitt…tiiitt….
Handphone norakku berbunyi. Aku langsung melempar bantal yang menutupi wajahku tadi, mencari sumber suara dan berharap itu dari, dia.
“yees..akhirnya” ujarku sambil melepas senyum terindah malam ini. pukul 22.43 wib. Terlewat 43 menit dari waktu yang kuduga. “hmm… it’s okay, yang penting ada kabar” ujarku lagi.
Kubuka kunci tombol hapeku sambil terus melepas senyum terindah, terpampang jelas dilayar monokrom itu “1 message Received”. “READ”, Aku tekan tombol “Ok”.
Persis dugaanku, SMS dari dia. Isinya “maaf ya mel, baru kasih kabar sekarang, tadi di Toko masih rame sama pembeli. Kamu belum tidur kan??”
Seperti yang sebelum-sebelumnya, alasan ini entah yang keberapa kali ia katakan padaku.
“iya, enggak apa-apa kok, aku belum tidur. sekarang udah tutup Tokonya, Nda?”
SEND.
Aku kembali berbaring sambil menatap langit-langit kamarku. Malam ini, entah malam yang keberapa kalinya aku kembali menyandang status sebagai “kekasih-nya”. Satu, dua, tiga, lima, delapan, yaaa…. sudah terlalu sering. Dan aku bangga menyandang status itu. waktu mengantarkanku pada lamunan panjang ke masa enam tahun yang lalu. Saat dimana aku benar-benar menyandang status sebagai “kekasihnya” bukan “kekasih-nya”. Saat itu, aku dan dia nyata. Aku ada dan dia ada. Aku bisa melihatnya dan dia bisa melihatku. Aku bisa menyentuhnya dan dia juga bisa mneyentuhku. Sebuah hubungan timbal balik dalam hubungan kita sebagai sepasang kekasih utuh. Aku selalu bangga mengatakan kepada setiap teman-temanku bahwa aku adalah kekasihnya. dan semua orang tau itu. semuanya berubah ketika usia tiga bulan menghampiri hubunganku. Semuanya tak lagi seperti dulu. Tidak ada lagi aku dan dia, tidak ada lagi aku bisa menyentuhnya dan dia bisa menyentuhku. Semuanya berubah menjadi kenangan. Kita berpisah dan dia pergi ke negeri antah berantah, enam tahun semenjak perpisahan itu dan malam ini aku kembali menjadi……
Tiiitt…tiiitt..tiiitt….
Lamunanku terhenti. Aku terhenyak dalam sadarku, kembali kuraba detak jantung yang mulai mengencang seakan sedang ikut turnamen lomba lari. Yaa.. ketakutan itu masih sama seperti enam tahun yang lalu. Rasa takut yang melekat dalam ketika aku merasakan pedihnya sebuah kehilangan itu, dan tidak ada yang berubah dariku, hanya saja…. wujud itu…….entahlaah…
1 message received. READ. Aku tekan tombol OK.
“udah mel, baru aja. Kamu udah makan? Lagi apa sekarang?
Tanpa pikir panjang, aku balas SMS darinya. Tangan ini semakin lancar dan lihai saja mengetik SMS untuknya. Siip. OK. SEND.
“udah juga, enggak lagi apa-apa. mikikirn kamu, pastinya ^_^”
Aku tersenyum ketika membaca lagi isi pesan yang kukirim padanya. Dia pasti juga senyum-senyum membacanya, trus membalasnya dengan mengatakan “aku juga mikirin kamu”. huuuaaa…… belum terjadi aja, bahagianya udah kayak gini, gimana kalo benaran yaaa?? Gumamku.
Beginilah nasib jadi kekasih dimalam hari, aku hanya bisa memilikinya ketika malam datang menjelma, tapi ketika fajar kembali menyingsing, dia kembali berkutat dengan sema kebisingannya dan aku dengan segala kesintinganku selalu tak pernah lepas dari hape monokrom ini berharap akan satu SMS nyasar darinya ke hapeku. Ternyata tidak. Aku hanya akan menjadi kekasihnya, dimalam hari saja, ketika kepenatan, kelelahan dan kesakitan itu menggerogoti tubuhnya dan tubuhku, dan kita kembali saling bercerita, tertawa dan mungkin berbahagia.
Persis malam ini. Aku kembali membayangkan senyumnya saat membaca SMS itu, mungkin persis sama dengan senyum saat pertama kali pertemuan itu, dan masih tentang kenangan enam tahun yang lalu itu, cinta monyet dimasa SMP ternyata tidak beranjak dari pikiranku, malah semakin menggila menusuk hatiku. Aku mencintainya, lebih dari sekedar monyet, (cinta monyet).
Aku dekap gulingku erat-erat sambil membayangkan dia-lah yang sedang kudekap. Norak. Yaa… kalau soal cinta, semua orang pasti norak. Aku sih maklum aja sama yang begitu-begituan. Aku juga pernah menikmati masa-masa abege yang penuh dengan kata norak, lebay, dan alay. Itu dulu. Sekarang aku sudah menginjak usia 21 tahun. Perawakan tidak lagi terbilang muda, wajah mulai menampakkan tanda-tanda keriput. Untung aja pakai perawatan wajah yang ekstra muahaal, makanya jadi tertutup sempurna. Lagian juga tidak terlalu mahal, bayarnya kan kredit. Jaman sekarang kan apa-apa bisa di kredit. Cinta aja bisa di cicil, apalagi yang lain. Aku cekikikan sendiri dengan apa yang sedang ku pikirkan.
Tiiit…tiiit..tiiit….
Bunyi ringtone message standar itu kembali membuyarkan lamunan anehku. Buru-buru kusambar hape berlayar monokrom itu. lampu Hp yang sudah tidak berfungsi lagi menyulitkanku melihat isi pesannya. Ternyata, bukan hanya cinta saja yang butuh perjuangan. Membaca SMS dari dia juga butuh perjuangan, coy..
“ ^_^ “
Glek.
Aku tersedak tanpa ada makanan atau minuman di mulutku. “ ^_^ “. Itu doang balasannya. Udah nunggu balasanyna lama dan isinya cumaaa ^_^. Sumpah yaa… lama-lama bisa serangan jantung kalau begini. Oh god, bukan ini balasan yang kutunggu, ratapku memelas. Setengah merintih, aku mencoba untuk kuat. Dia pasti lagi makan, atau mungkin lagi ganti baju, atau mungkin lagi di WC, oh bukan, dia pasti lagi nonton bola… aduuuhh.. dia lagi apa sih sebenernya?? Kenapa balasan SMSnya Cuma itu aja?? Oh iya, dia pasti lagi nganterin uang arisan mamanya, dia kan suka gitu, disuruh sama calon ibu mertua (amin) buat nganterin arisan hariannya. Nominalnya juga enggak tanggung-tanggung, lima ratus ribu semalam. Udah kayak tarif hotel aja. Hahaha… aku kembali cekikikan dalam pikiran sedengku. Padahal sekarang suasana hati lagi hancur-sehancurnya, tapi ya gimana lagi, life is must go on, kan??
Aku kembali mengetik pesan singkat sebagai balasan untuk SMS nya yang ^_^ sangat tidak bermutu itu, khususnya untukku. Apa maksud dari ^_^ itu, aku juga tidak tahu, mungkin dia begini ^_^, karna pemain bola kesayangannya berhasil mencetak gol, atau mungkin karna Cafe tempat ia biasa membeli Nasi Goreng makanan favorit malamnya memberinya diskon 100% sambil mengatakan “selamat, anda pengunjung kami ke 200 malam ini, dengan begitu anda mendapatkan diskon 100% untuk menu yang anda pesan”. Hueek… aku seakan mau muntah membayangkan khayalan tingkat tinggi yang tidak bermutu itu. kenapa bisa-bisanya disaat-saat galau seperti ini aku malah membayangkan dia dapat diskon makan 100%, mungkin efek galau terlalu lama menjadikan proses kerja otak jadi ikut-ikutan galau juga. Ini teori salah.
“lagi sibuk ya, Nda??”
SEND.
Aku kembali melanjutkan khayalan. Kali ini, aku membayangkan, dia akan membalas SMS itu seperti apa. mungkin dengan jawaban point A“enggak kok Mel, kamu mau telponan ya??” atau mungkin dengan point B “iya nih Mel, jangan ganggu aku ya.”
Braak.
Aku terhenyak lagi. Kalau memang dia membalas dengan point A, aku pasti bakal nari Tor-Tor atau mungkin goyang gangnam style, tapi kalau dia membalas dengan point B, ya..yaa..yaa.. aku harus siap-siap, ambil guling, ambil bantal dan selimut, matikan lampu, lalu tidur. Sungguh menyakitkan.
Tiiiitt….tiiitt….tiiit…
Lagi-lagi ringtone message standar itu mencabik-cabik lamunan terburukku. Kali ini, aku bisa terima, tapi kalau untuk lamunan terbaikku, entahlah…aku saja sudah lupa kapan terakhir kali mempunyai lamunan terbaik..
Detak jantungku kembali berpacu dengan detak jantung jam dinding. Tik.tik.tik. persis bunyi suara rintik juhan, bukan detak jantung. Tak apa, aku juga lupa bagaimana buni detak jantungku sendiri. Setiap harinya aku hanya memikirkan bagaimana caranya agar Hp norak berlayar monokrom keluaran tahun 2008 yang sudah tidak memiliki lampu layar dan bunyi deringnya yang kadang-kadang muncul dan kadang-kadang enggak ini bisa berbunyi setiap malamnya, karna aku hanya bisa menjadi seorang wanita utuh hanya pada malam hari, karna setiap malam, aku pasti menjadi kekasih-nya. Lalu bagaimana dengan pagi, siang dan sore hari. Jawabannya, NO. Aku Jomblo.
Ragu antara tekan tombol OK atau Back, kalau dia membalas dengan point A, itu artinya aku beruntung, tapi kalau point B, huuuh…. aku benci point B.
“enggak kok mel, tapi aku udah mulai ngantuk sih, capek banget rasanya Mel, seharian jagain Toko, Mama lagi sakit, Bang Windo juga lagi sibuk. Karyawan toko juga pada Pulkam, jadinya tinggal aku sendirian yang jagain Toko,,”
Ini tidak ada di point A ataupun poin B. pasti point C. Aku benci point B ataupun point C, sekalian dengan point D, kalau masih ada.
Aku menelan ludah membaca balasan SMS darinya. “Tapi aku udah mulai ngantuk sih, capek banget rasanya, Mel”. Huuuhh…. sama saja dengan point B “jangan ganggu aku”.
Oh god, sepertinya malam ini aku harus cepat-cepat mengambil bantal dan guling, lalu selimut dan kemudian menyelamatkan diri dengan cepat-cepat tidur.
Kenapa enggak sekalian aja dia bilang kalo tetangganya juga lagi sakit, keponakannya lagi pada main, yang jualan nasi goreng juga lagi sibuk, yang jualan Pop Ice juga udah tutup, terus yang jagain parkir juga lagi pulkam, makanya jadi sendirian jagain toko. Huuh… menyebalkan. Dia benar-benar enggak ngerti atau emang enggak mau ngerti. Eehh… loe tau enggak siih… gue itu lagi kangen banget sama loe…apa perlu gue ketik KANGEN trus gue kirim ke loe biar loe-nya nyadar kalo ada gue disini yang lagi kangen dan mikirin elo???
Tanpa perlu dikomando lagi, setengah merintih dan menjerit, akhirnya bantal, selimut dan guling kembali menjadi kekasih abadiku malam ini. sebelumnya, “yaudah, istirahat yang cukup ya nda, biar enggak sakit, titip salam bwt mm, cepet sembuh ^_^. Met malem” sukses terkirim dengan hantaran setitik airmata menuju hapenya.
Aku tidur sambil menggumamkan lagunya Padi- Kasih Tak Sampai,,
Aku tiduuur… tanpa bebaaan…. (dengan sedikit perubahan, aku pulang…tanpa beban)
Selamat malam. (Dharma Julia)

Sumber: Kompasiana

Kekasih di Malam Hari

0 comments

InfoAntiGalau - Malam ini tepat pukul 22.00 wib, itu artinya sebentar lagi handphone ini akan segera bergetar. Aku berlari mengutak-atik seisi kamar mencari dimana Hapeku. Berhasil. Aku menemukannya dibawah bantal. Suasana hati semakin tak menentu. keringat mulai mengucur perlahan. Haahh… umpatku kesal. Selalu seperti ini. padahal setiap malamnya aku sudah belajar membiasakan diri, tapi tetap saja hasilnya, nol besar.
Mataku tak henti melirik layar di hape keluaran tahun 2008 silam. Super norak banget. Sekarang udah tahun 2013, udah jamannya pakai android, BB, Ipad, Iphone, atau apalah namanya, aku juga tidak tau pasti, yang penting apapun itu jenisnya, aku bersyukur bisa memiliki hape super norak ini, udah lampu layarnya tidak bisa hidup, ditambah lagi dengan Nada deringnya yang kadang muncul kadang enggak. Aku maklum. Dulu, handphone ini sempat tercebur ke airlaut, makanya jadi gini.
Pukul 22.15 wib. Sudah lewat 15 menit dari waktu yang diduga, tapi pertanda ada telepon masuk ataupun SMS belum juga terlihat. Aku semakin was-was. Apa dia lupa dengan malam ini?? hatiku mulai bertanya-tanya. Aku bangun dari tempat tidur. Berdiri, mondar-mandir didepan kaca, dan kemudian berbaring lagi di tempat tidur. Begitu berulang kali hingga pukul 22.32 wib. Aku semakin kesal. Udah lewat 32 menit tapi belum ada kabar juga, padahal sudah seharusnya ada kabar. Aku terus mengumpat dalam hati, bertanya-tanya dan kemudian berdiri lagi, mondar-mandir lagi dan akhirnya berbaring lagi sambil menelungkupkan wajah di bantal. Entah sudah yang keberapa kalinya aku melakukan ritual bodoh ini. aaarrrggghhh….
Tiiit…tiiitt…tiiitt….
Handphone norakku berbunyi. Aku langsung melempar bantal yang menutupi wajahku tadi, mencari sumber suara dan berharap itu dari, dia.
“yees..akhirnya” ujarku sambil melepas senyum terindah malam ini. pukul 22.43 wib. Terlewat 43 menit dari waktu yang kuduga. “hmm… it’s okay, yang penting ada kabar” ujarku lagi.
Kubuka kunci tombol hapeku sambil terus melepas senyum terindah, terpampang jelas dilayar monokrom itu “1 message Received”. “READ”, Aku tekan tombol “Ok”.
Persis dugaanku, SMS dari dia. Isinya “maaf ya mel, baru kasih kabar sekarang, tadi di Toko masih rame sama pembeli. Kamu belum tidur kan??”
Seperti yang sebelum-sebelumnya, alasan ini entah yang keberapa kali ia katakan padaku.
“iya, enggak apa-apa kok, aku belum tidur. sekarang udah tutup Tokonya, Nda?”
SEND.
Aku kembali berbaring sambil menatap langit-langit kamarku. Malam ini, entah malam yang keberapa kalinya aku kembali menyandang status sebagai “kekasih-nya”. Satu, dua, tiga, lima, delapan, yaaa…. sudah terlalu sering. Dan aku bangga menyandang status itu. waktu mengantarkanku pada lamunan panjang ke masa enam tahun yang lalu. Saat dimana aku benar-benar menyandang status sebagai “kekasihnya” bukan “kekasih-nya”. Saat itu, aku dan dia nyata. Aku ada dan dia ada. Aku bisa melihatnya dan dia bisa melihatku. Aku bisa menyentuhnya dan dia juga bisa mneyentuhku. Sebuah hubungan timbal balik dalam hubungan kita sebagai sepasang kekasih utuh. Aku selalu bangga mengatakan kepada setiap teman-temanku bahwa aku adalah kekasihnya. dan semua orang tau itu. semuanya berubah ketika usia tiga bulan menghampiri hubunganku. Semuanya tak lagi seperti dulu. Tidak ada lagi aku dan dia, tidak ada lagi aku bisa menyentuhnya dan dia bisa menyentuhku. Semuanya berubah menjadi kenangan. Kita berpisah dan dia pergi ke negeri antah berantah, enam tahun semenjak perpisahan itu dan malam ini aku kembali menjadi……
Tiiitt…tiiitt..tiiitt….
Lamunanku terhenti. Aku terhenyak dalam sadarku, kembali kuraba detak jantung yang mulai mengencang seakan sedang ikut turnamen lomba lari. Yaa.. ketakutan itu masih sama seperti enam tahun yang lalu. Rasa takut yang melekat dalam ketika aku merasakan pedihnya sebuah kehilangan itu, dan tidak ada yang berubah dariku, hanya saja…. wujud itu…….entahlaah…
1 message received. READ. Aku tekan tombol OK.
“udah mel, baru aja. Kamu udah makan? Lagi apa sekarang?
Tanpa pikir panjang, aku balas SMS darinya. Tangan ini semakin lancar dan lihai saja mengetik SMS untuknya. Siip. OK. SEND.
“udah juga, enggak lagi apa-apa. mikikirn kamu, pastinya ^_^”
Aku tersenyum ketika membaca lagi isi pesan yang kukirim padanya. Dia pasti juga senyum-senyum membacanya, trus membalasnya dengan mengatakan “aku juga mikirin kamu”. huuuaaa…… belum terjadi aja, bahagianya udah kayak gini, gimana kalo benaran yaaa?? Gumamku.
Beginilah nasib jadi kekasih dimalam hari, aku hanya bisa memilikinya ketika malam datang menjelma, tapi ketika fajar kembali menyingsing, dia kembali berkutat dengan sema kebisingannya dan aku dengan segala kesintinganku selalu tak pernah lepas dari hape monokrom ini berharap akan satu SMS nyasar darinya ke hapeku. Ternyata tidak. Aku hanya akan menjadi kekasihnya, dimalam hari saja, ketika kepenatan, kelelahan dan kesakitan itu menggerogoti tubuhnya dan tubuhku, dan kita kembali saling bercerita, tertawa dan mungkin berbahagia.
Persis malam ini. Aku kembali membayangkan senyumnya saat membaca SMS itu, mungkin persis sama dengan senyum saat pertama kali pertemuan itu, dan masih tentang kenangan enam tahun yang lalu itu, cinta monyet dimasa SMP ternyata tidak beranjak dari pikiranku, malah semakin menggila menusuk hatiku. Aku mencintainya, lebih dari sekedar monyet, (cinta monyet).
Aku dekap gulingku erat-erat sambil membayangkan dia-lah yang sedang kudekap. Norak. Yaa… kalau soal cinta, semua orang pasti norak. Aku sih maklum aja sama yang begitu-begituan. Aku juga pernah menikmati masa-masa abege yang penuh dengan kata norak, lebay, dan alay. Itu dulu. Sekarang aku sudah menginjak usia 21 tahun. Perawakan tidak lagi terbilang muda, wajah mulai menampakkan tanda-tanda keriput. Untung aja pakai perawatan wajah yang ekstra muahaal, makanya jadi tertutup sempurna. Lagian juga tidak terlalu mahal, bayarnya kan kredit. Jaman sekarang kan apa-apa bisa di kredit. Cinta aja bisa di cicil, apalagi yang lain. Aku cekikikan sendiri dengan apa yang sedang ku pikirkan.
Tiiit…tiiit..tiiit….
Bunyi ringtone message standar itu kembali membuyarkan lamunan anehku. Buru-buru kusambar hape berlayar monokrom itu. lampu Hp yang sudah tidak berfungsi lagi menyulitkanku melihat isi pesannya. Ternyata, bukan hanya cinta saja yang butuh perjuangan. Membaca SMS dari dia juga butuh perjuangan, coy..
“ ^_^ “
Glek.
Aku tersedak tanpa ada makanan atau minuman di mulutku. “ ^_^ “. Itu doang balasannya. Udah nunggu balasanyna lama dan isinya cumaaa ^_^. Sumpah yaa… lama-lama bisa serangan jantung kalau begini. Oh god, bukan ini balasan yang kutunggu, ratapku memelas. Setengah merintih, aku mencoba untuk kuat. Dia pasti lagi makan, atau mungkin lagi ganti baju, atau mungkin lagi di WC, oh bukan, dia pasti lagi nonton bola… aduuuhh.. dia lagi apa sih sebenernya?? Kenapa balasan SMSnya Cuma itu aja?? Oh iya, dia pasti lagi nganterin uang arisan mamanya, dia kan suka gitu, disuruh sama calon ibu mertua (amin) buat nganterin arisan hariannya. Nominalnya juga enggak tanggung-tanggung, lima ratus ribu semalam. Udah kayak tarif hotel aja. Hahaha… aku kembali cekikikan dalam pikiran sedengku. Padahal sekarang suasana hati lagi hancur-sehancurnya, tapi ya gimana lagi, life is must go on, kan??
Aku kembali mengetik pesan singkat sebagai balasan untuk SMS nya yang ^_^ sangat tidak bermutu itu, khususnya untukku. Apa maksud dari ^_^ itu, aku juga tidak tahu, mungkin dia begini ^_^, karna pemain bola kesayangannya berhasil mencetak gol, atau mungkin karna Cafe tempat ia biasa membeli Nasi Goreng makanan favorit malamnya memberinya diskon 100% sambil mengatakan “selamat, anda pengunjung kami ke 200 malam ini, dengan begitu anda mendapatkan diskon 100% untuk menu yang anda pesan”. Hueek… aku seakan mau muntah membayangkan khayalan tingkat tinggi yang tidak bermutu itu. kenapa bisa-bisanya disaat-saat galau seperti ini aku malah membayangkan dia dapat diskon makan 100%, mungkin efek galau terlalu lama menjadikan proses kerja otak jadi ikut-ikutan galau juga. Ini teori salah.
“lagi sibuk ya, Nda??”
SEND.
Aku kembali melanjutkan khayalan. Kali ini, aku membayangkan, dia akan membalas SMS itu seperti apa. mungkin dengan jawaban point A“enggak kok Mel, kamu mau telponan ya??” atau mungkin dengan point B “iya nih Mel, jangan ganggu aku ya.”
Braak.
Aku terhenyak lagi. Kalau memang dia membalas dengan point A, aku pasti bakal nari Tor-Tor atau mungkin goyang gangnam style, tapi kalau dia membalas dengan point B, ya..yaa..yaa.. aku harus siap-siap, ambil guling, ambil bantal dan selimut, matikan lampu, lalu tidur. Sungguh menyakitkan.
Tiiiitt….tiiitt….tiiit…
Lagi-lagi ringtone message standar itu mencabik-cabik lamunan terburukku. Kali ini, aku bisa terima, tapi kalau untuk lamunan terbaikku, entahlah…aku saja sudah lupa kapan terakhir kali mempunyai lamunan terbaik..
Detak jantungku kembali berpacu dengan detak jantung jam dinding. Tik.tik.tik. persis bunyi suara rintik juhan, bukan detak jantung. Tak apa, aku juga lupa bagaimana buni detak jantungku sendiri. Setiap harinya aku hanya memikirkan bagaimana caranya agar Hp norak berlayar monokrom keluaran tahun 2008 yang sudah tidak memiliki lampu layar dan bunyi deringnya yang kadang-kadang muncul dan kadang-kadang enggak ini bisa berbunyi setiap malamnya, karna aku hanya bisa menjadi seorang wanita utuh hanya pada malam hari, karna setiap malam, aku pasti menjadi kekasih-nya. Lalu bagaimana dengan pagi, siang dan sore hari. Jawabannya, NO. Aku Jomblo.
Ragu antara tekan tombol OK atau Back, kalau dia membalas dengan point A, itu artinya aku beruntung, tapi kalau point B, huuuh…. aku benci point B.
“enggak kok mel, tapi aku udah mulai ngantuk sih, capek banget rasanya Mel, seharian jagain Toko, Mama lagi sakit, Bang Windo juga lagi sibuk. Karyawan toko juga pada Pulkam, jadinya tinggal aku sendirian yang jagain Toko,,”
Ini tidak ada di point A ataupun poin B. pasti point C. Aku benci point B ataupun point C, sekalian dengan point D, kalau masih ada.
Aku menelan ludah membaca balasan SMS darinya. “Tapi aku udah mulai ngantuk sih, capek banget rasanya, Mel”. Huuuhh…. sama saja dengan point B “jangan ganggu aku”.
Oh god, sepertinya malam ini aku harus cepat-cepat mengambil bantal dan guling, lalu selimut dan kemudian menyelamatkan diri dengan cepat-cepat tidur.
Kenapa enggak sekalian aja dia bilang kalo tetangganya juga lagi sakit, keponakannya lagi pada main, yang jualan nasi goreng juga lagi sibuk, yang jualan Pop Ice juga udah tutup, terus yang jagain parkir juga lagi pulkam, makanya jadi sendirian jagain toko. Huuh… menyebalkan. Dia benar-benar enggak ngerti atau emang enggak mau ngerti. Eehh… loe tau enggak siih… gue itu lagi kangen banget sama loe…apa perlu gue ketik KANGEN trus gue kirim ke loe biar loe-nya nyadar kalo ada gue disini yang lagi kangen dan mikirin elo???
Tanpa perlu dikomando lagi, setengah merintih dan menjerit, akhirnya bantal, selimut dan guling kembali menjadi kekasih abadiku malam ini. sebelumnya, “yaudah, istirahat yang cukup ya nda, biar enggak sakit, titip salam bwt mm, cepet sembuh ^_^. Met malem” sukses terkirim dengan hantaran setitik airmata menuju hapenya.
Aku tidur sambil menggumamkan lagunya Padi- Kasih Tak Sampai,,
Aku tiduuur… tanpa bebaaan…. (dengan sedikit perubahan, aku pulang…tanpa beban)
Selamat malam. (Dharma Julia)

Sumber: Kompasiana

Wednesday, December 26, 2012

Anti Galau - Ah mengapa aku tidak seberuntung dirinya ya. Mbak wati begitu beruntung karena dia mendapatkan semua yang dia inginkan. Teman yang baik, orangtua yang sangat menyayanginya dan mampu memberikan apa yang dia minta. Seolah semua keinginanku dikabulkan…….dalam dirinya 
Aku terkejut dengan pikiranku sendiri. Pikiran itu tidak pernah lepas dariku, bahwa temanku lebih beruntung dariku, bahwa aku tidak beruntung, bahwa aku……ah… tentangku sangat sulit kuungkapkan. Ibarat mbak wati adalah angsa yang cantik, sedangkan aku hanyalah angsa buruk rupa. Ah Tuhan, mengapa aku sangat sulit untuk bersyukur? Apakah kehidupanku demikian buruknya sehingga yang bisa kuungkapkan hanyalah kata-kata keluhan?

Tartik….sedang apa kamu, ayo bantu ibu bikin jajan. Nanti kamu titipkan ke mbok yem ya. Jangan kamu makan sendiri, nanti setoran ke ibu bisa kurang…
Lagi-lagi ibu memanggilku untuk yang ke sekian kali. Sebenarnya aku sudah mendengarkan panggilannya dari tadi, hanya saja aku capek membantunya. Dan yang lebih parah lagi, aku capek dengan kemiskinan yang kualami ini. Mengapa Tuhan tidak menciptakan aku dalam keluarga yang kaya saja seperti keluarga mbak wati.

Tartik !!!!!!
Suara ibu kembali menggema. Dengan langkah malas aku pergi ke dapur. Sambil membantu ibu aku melamunkan kehidupanku yang “baru”. Seperti cerita di sinetron-sinetron, aku mengenakan baju baru yang indah sekali, kemana-mana aku dihantarkan oleh supirku dan aku bebas memilih makanan apapun yang kusuka. Aku membayangkan sebuah rumah yang besar dilengkapi dengan kolam renang. Wuih….pasti asyik bisa berenang di sana pada siang hari yang panas. Tapi bagaimana ya jika nanti kulitku menghitam? Ah… tidak apa-apa, toh ada alat yang bisa memutihkan kulit. Seperti yang dilakukan oleh para artis itu, menghamburkan uang yang dimiliki dengan perawatan di salon. Singkatnya, aku ga kalah dari mbak wati deh nantinya.

Tik, gulanya jangan lupa dimasukkan ke kleponnya…..
Tartik, gulanya…….
Tik…..tik…..
Oalah nduk, kowe kok ngelamun aja, ayo bangun
Ibu mengguncang-guncangkan tubuhku dengan cukup kencang sehingga membuatku terbangun dari lamunanku. Hancur sudah impianku tentang rumah mewah, baju-baju yang bagus dan mahal, serta kolam renang yang sangat kuidam-idamkan.
Aduh, ibuk ini kenapa to? Kok ndak bisa membiarkan anaknya senang.
Kowe dari tadi ngelamun opo tho, sampai-sampai gulanya ndak kamu masukkan dalam adonan klepon?
Aduh buk, aku lupa….maap-maap ya buk.
Buk, kenapa tho kita ndak kaya-kaya? Kenapa Tuhan membeda-bedakan orang. Apa aku ndak disayang sama Tuhan ya, kok aku dilahirkan dalam keadaan yang seperti ini. Aku iri sama mbak wati buk, orangtuanya kaya, orangnya pinter, makanya banyak orang yang berteman sama dia. Sedangkan aku cuma kayak gini.
Oalah nduk-nduk, kamu ini kenapa kok tanya yang ndak-ndak. Kehidupan kita ya emang sudah gini, sudah digariskan sama Tuhan yang kayak gini. Lagian kalau Tuhan menciptakan semua orang menjadi kaya, lha nanti siapa yang akan bekerja untuk mereka, siapa yang menyediakan beras untuk mereka, siapa yang bikin klepon untuk dinikmati sama mereka. Kita ndak bisa protes sama Tuhan nduk. Nanti kamu kualat lho.
Pokoknya aku mau protes sama Tuhan buk, Aku mau protes sampai Tuhan menjawab pertanyaanku. Aku mau protes sampai Tuhan mau mengabulkan permintaanku.
Ati-ati sama pikiranmu nduk, jangan sampai kamu kualat dan dihukum sama Tuhan.
Aku sudah ndak perduli. Aku sudah cukup sengsara seperti sekarang, ga ada lagi kesengsaraan yang bisa membuatku kaget.

Aku segera meninggalkan ibuku. Aku kecewa pada Tuhan yang kurasa tidak adil padaku. Aku berjanji dalam hati bahwa aku akan segera meninggalkan kemiskinanku ini. Aku tidak sudi menjadi orang miskin.
Tanpa sengaja aku menatap jam dinding. Ternyata sudah jam 7 pagi. Aku terlambat sekolah. Aku segera menyambar handuku dan bersiap untuk mandi ketika ibuku tiba tiba memanggilku lagi. “Tik jangan lupa kleponnya ya kalau berangkat sekolah”. Ah ibu, di tengah-tengah kepanikanku seperti ini, aku masih dibebani klepon. Apakah ibu tidak tahu bahwa aku sudah terlambat? Aku membayangkan seandainya aku punya pembantu, tentu aku saat ini sudah disiapkan seragam yang bersih dan sarapan dengan roti keju. Aih…enaknya. Kalau kuingat-ingat lagi seragamku yang kumal dan satu-satunya ini, aku jadi semakin benci dengan kehidupanku.
Duh….. bemonya mana sih….apa mereka ga tau kalau aku sudah telat. Seandainya saja aku punya sopir pribadi yang siap mengantarku kemana saja, tentu aku ga akan serepot ini. Aih… betapa tidak beruntungnya aku.
Aku merasa ada yang janggal dengan diriku. Aku merasa dunia tiba tiba berputar dan berputas semakin kencang dan lama-kelamaan terasa gelap.
Aku terbangun dan aku melihat ibu tertidur di pinggir kasur. Ibu nampaknya dapat merasakan kalau aku sudah bangun.

Nduk, kamu sudah bangun tho? Ibuk kuatir, kamu jatuh pingsan sewaktu kamu sedang menunggu bemo untuk berangkat sekolah. Untung ada bayu lewat. Dia kemudian membopongmu ke rumah sakit dan segera memberitahukan ibu. Kamu sudah tiga hari pingsan nduk.
Penjelasan ibu yang cukup lengkap membuatku tidak perlu menanyakan apa-apa lagi. Tapi masih ada yang terpikirkan di benakku. Bagaimana dengan biaya rumah sakitnya bu? Apa kita sanggup membayar? biaya rumah sakit kan tidak murah, bagaimana dengan jualan kleponnya bu?
Itu ndak usah kamu pkirkan. Yang penting kamu istirahat saja.
Hatiku yang kaku hancur mendengar kata-kata ibuku. Aku ingat bahwa aku adalah anak satu-satunya ibuku. Semenjak ayahku meninggal lima tahun yang lalu, ibuku berusaha mencukupi segala kebutuhanku dengan cara berjualan klepon. Walau kami tidak dapat dikatakan sebagai keluarga mampu, namun kebutuhan kami sehari-hari tertutupi dengan hasil jualan klepon. Jika tiga hari ibu menemaniku di sini, bagaimana dengan dagangan ibu, apakah ibu tidak berdagang hanya untuk menemaniku?

Aku merasa sangat bersalah pada ibuku karena aku malah menyakiti hatinya. Aku malah membebaninya dengan masalah yang tidak penting. Aku tidak pernah bersyukur bahwa aku mempunyai ibu yang sangat luar biasa karena membesarkan aku sendirian. Ternyata dibutuhkan sebuah penyakit untuk dapat menyadarkanku betapa aku harus bersyukur pada keadaan yang kuhadapi.

Buk, tartik minta maaf ya karena terlalu sering merepotkan ibu.
Kamu ndak salah nduk. Ibu yang minta maaf karena terlalu membebanimu dengan pekerjaan membuat klepon. Ibu juga minta maaf karena tidak mampu mencukupi kebutuhanmu nduk.
Sorenya aku sudah diperbolehkan pulang. Di dalam bemo aku masih tetap membayangkan betapa enaknya duduk di mobil yang ber-ac dan ada sopir yang mengantarku kemana-mana. Tapi aku menyadari bahwa kehidupan yang kumiliki saat ini lebih berharga daripada mobil mewah, kolam renang dan baju yang mahal. Aku mempunyai ibu yang sangat menyayangiku dan itulah yang utama. Ibu mau bekerja keras membuat klepon untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari.
Cinta ibuku diwujudkan dalam butiran klepon. (Shanti Yanuarini)

Sumber: Kompasiana

Cinta Dalam Butiran Kelepon

0 comments

Anti Galau - Ah mengapa aku tidak seberuntung dirinya ya. Mbak wati begitu beruntung karena dia mendapatkan semua yang dia inginkan. Teman yang baik, orangtua yang sangat menyayanginya dan mampu memberikan apa yang dia minta. Seolah semua keinginanku dikabulkan…….dalam dirinya 
Aku terkejut dengan pikiranku sendiri. Pikiran itu tidak pernah lepas dariku, bahwa temanku lebih beruntung dariku, bahwa aku tidak beruntung, bahwa aku……ah… tentangku sangat sulit kuungkapkan. Ibarat mbak wati adalah angsa yang cantik, sedangkan aku hanyalah angsa buruk rupa. Ah Tuhan, mengapa aku sangat sulit untuk bersyukur? Apakah kehidupanku demikian buruknya sehingga yang bisa kuungkapkan hanyalah kata-kata keluhan?

Tartik….sedang apa kamu, ayo bantu ibu bikin jajan. Nanti kamu titipkan ke mbok yem ya. Jangan kamu makan sendiri, nanti setoran ke ibu bisa kurang…
Lagi-lagi ibu memanggilku untuk yang ke sekian kali. Sebenarnya aku sudah mendengarkan panggilannya dari tadi, hanya saja aku capek membantunya. Dan yang lebih parah lagi, aku capek dengan kemiskinan yang kualami ini. Mengapa Tuhan tidak menciptakan aku dalam keluarga yang kaya saja seperti keluarga mbak wati.

Tartik !!!!!!
Suara ibu kembali menggema. Dengan langkah malas aku pergi ke dapur. Sambil membantu ibu aku melamunkan kehidupanku yang “baru”. Seperti cerita di sinetron-sinetron, aku mengenakan baju baru yang indah sekali, kemana-mana aku dihantarkan oleh supirku dan aku bebas memilih makanan apapun yang kusuka. Aku membayangkan sebuah rumah yang besar dilengkapi dengan kolam renang. Wuih….pasti asyik bisa berenang di sana pada siang hari yang panas. Tapi bagaimana ya jika nanti kulitku menghitam? Ah… tidak apa-apa, toh ada alat yang bisa memutihkan kulit. Seperti yang dilakukan oleh para artis itu, menghamburkan uang yang dimiliki dengan perawatan di salon. Singkatnya, aku ga kalah dari mbak wati deh nantinya.

Tik, gulanya jangan lupa dimasukkan ke kleponnya…..
Tartik, gulanya…….
Tik…..tik…..
Oalah nduk, kowe kok ngelamun aja, ayo bangun
Ibu mengguncang-guncangkan tubuhku dengan cukup kencang sehingga membuatku terbangun dari lamunanku. Hancur sudah impianku tentang rumah mewah, baju-baju yang bagus dan mahal, serta kolam renang yang sangat kuidam-idamkan.
Aduh, ibuk ini kenapa to? Kok ndak bisa membiarkan anaknya senang.
Kowe dari tadi ngelamun opo tho, sampai-sampai gulanya ndak kamu masukkan dalam adonan klepon?
Aduh buk, aku lupa….maap-maap ya buk.
Buk, kenapa tho kita ndak kaya-kaya? Kenapa Tuhan membeda-bedakan orang. Apa aku ndak disayang sama Tuhan ya, kok aku dilahirkan dalam keadaan yang seperti ini. Aku iri sama mbak wati buk, orangtuanya kaya, orangnya pinter, makanya banyak orang yang berteman sama dia. Sedangkan aku cuma kayak gini.
Oalah nduk-nduk, kamu ini kenapa kok tanya yang ndak-ndak. Kehidupan kita ya emang sudah gini, sudah digariskan sama Tuhan yang kayak gini. Lagian kalau Tuhan menciptakan semua orang menjadi kaya, lha nanti siapa yang akan bekerja untuk mereka, siapa yang menyediakan beras untuk mereka, siapa yang bikin klepon untuk dinikmati sama mereka. Kita ndak bisa protes sama Tuhan nduk. Nanti kamu kualat lho.
Pokoknya aku mau protes sama Tuhan buk, Aku mau protes sampai Tuhan menjawab pertanyaanku. Aku mau protes sampai Tuhan mau mengabulkan permintaanku.
Ati-ati sama pikiranmu nduk, jangan sampai kamu kualat dan dihukum sama Tuhan.
Aku sudah ndak perduli. Aku sudah cukup sengsara seperti sekarang, ga ada lagi kesengsaraan yang bisa membuatku kaget.

Aku segera meninggalkan ibuku. Aku kecewa pada Tuhan yang kurasa tidak adil padaku. Aku berjanji dalam hati bahwa aku akan segera meninggalkan kemiskinanku ini. Aku tidak sudi menjadi orang miskin.
Tanpa sengaja aku menatap jam dinding. Ternyata sudah jam 7 pagi. Aku terlambat sekolah. Aku segera menyambar handuku dan bersiap untuk mandi ketika ibuku tiba tiba memanggilku lagi. “Tik jangan lupa kleponnya ya kalau berangkat sekolah”. Ah ibu, di tengah-tengah kepanikanku seperti ini, aku masih dibebani klepon. Apakah ibu tidak tahu bahwa aku sudah terlambat? Aku membayangkan seandainya aku punya pembantu, tentu aku saat ini sudah disiapkan seragam yang bersih dan sarapan dengan roti keju. Aih…enaknya. Kalau kuingat-ingat lagi seragamku yang kumal dan satu-satunya ini, aku jadi semakin benci dengan kehidupanku.
Duh….. bemonya mana sih….apa mereka ga tau kalau aku sudah telat. Seandainya saja aku punya sopir pribadi yang siap mengantarku kemana saja, tentu aku ga akan serepot ini. Aih… betapa tidak beruntungnya aku.
Aku merasa ada yang janggal dengan diriku. Aku merasa dunia tiba tiba berputar dan berputas semakin kencang dan lama-kelamaan terasa gelap.
Aku terbangun dan aku melihat ibu tertidur di pinggir kasur. Ibu nampaknya dapat merasakan kalau aku sudah bangun.

Nduk, kamu sudah bangun tho? Ibuk kuatir, kamu jatuh pingsan sewaktu kamu sedang menunggu bemo untuk berangkat sekolah. Untung ada bayu lewat. Dia kemudian membopongmu ke rumah sakit dan segera memberitahukan ibu. Kamu sudah tiga hari pingsan nduk.
Penjelasan ibu yang cukup lengkap membuatku tidak perlu menanyakan apa-apa lagi. Tapi masih ada yang terpikirkan di benakku. Bagaimana dengan biaya rumah sakitnya bu? Apa kita sanggup membayar? biaya rumah sakit kan tidak murah, bagaimana dengan jualan kleponnya bu?
Itu ndak usah kamu pkirkan. Yang penting kamu istirahat saja.
Hatiku yang kaku hancur mendengar kata-kata ibuku. Aku ingat bahwa aku adalah anak satu-satunya ibuku. Semenjak ayahku meninggal lima tahun yang lalu, ibuku berusaha mencukupi segala kebutuhanku dengan cara berjualan klepon. Walau kami tidak dapat dikatakan sebagai keluarga mampu, namun kebutuhan kami sehari-hari tertutupi dengan hasil jualan klepon. Jika tiga hari ibu menemaniku di sini, bagaimana dengan dagangan ibu, apakah ibu tidak berdagang hanya untuk menemaniku?

Aku merasa sangat bersalah pada ibuku karena aku malah menyakiti hatinya. Aku malah membebaninya dengan masalah yang tidak penting. Aku tidak pernah bersyukur bahwa aku mempunyai ibu yang sangat luar biasa karena membesarkan aku sendirian. Ternyata dibutuhkan sebuah penyakit untuk dapat menyadarkanku betapa aku harus bersyukur pada keadaan yang kuhadapi.

Buk, tartik minta maaf ya karena terlalu sering merepotkan ibu.
Kamu ndak salah nduk. Ibu yang minta maaf karena terlalu membebanimu dengan pekerjaan membuat klepon. Ibu juga minta maaf karena tidak mampu mencukupi kebutuhanmu nduk.
Sorenya aku sudah diperbolehkan pulang. Di dalam bemo aku masih tetap membayangkan betapa enaknya duduk di mobil yang ber-ac dan ada sopir yang mengantarku kemana-mana. Tapi aku menyadari bahwa kehidupan yang kumiliki saat ini lebih berharga daripada mobil mewah, kolam renang dan baju yang mahal. Aku mempunyai ibu yang sangat menyayangiku dan itulah yang utama. Ibu mau bekerja keras membuat klepon untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari.
Cinta ibuku diwujudkan dalam butiran klepon. (Shanti Yanuarini)

Sumber: Kompasiana

Friday, December 21, 2012

Anti Galau - Dunia maya adalah sebuah dunia yang tak asing lagi bagiku. Dari sejak berkembangnya friendster, aku sudah sangat akrab dengan warnet yang berlokasi di dekat sekolahku. Duniaku tak pernah lepas dari internet, bahkan aku meminta orang tuaku untuk berlangganan internet setiap bulan. Jadilah aku semakin ketergantungan internet. Kegiatanku disana selain nge-game tapi tetap eksis di friendster. Apa yang kulakukan di friendster?
Namaku Ari, seorang playboy maya. Di akun friendsterku, banyak perempuan yang menjadi pacar mayaku. Dunia maya memang mengganggu kegiatan sekolah. Nilai-nilai pelajaranku anjlok, tidurku pun jadi kurang. Beruntung aku dapat menamatkan diri dari SMA walaupun dengan merogoh kantong sebesar Rp 300.000,00 demi kunci jawaban yang kudapatkan dari seorang Joki ketika Ujian Nasional (UN). Aku bodoh ya? Kurasa tidak, Cuma sedikit malas sejak mencintai internet.
***
Lulus SMA, aku masuk ke sebuah universitas swasta yang cukup terkenal di kotaku. Sebagai playboy maya tentunya aku masih saja merayu gadis-gadis di friendster. Pertemanan maya di friendster, segera kualihkan ke facebook yang selalu berlanjut ke chatting di Yahoo Messanger (YM !), tentunya aku tak lupa mencari tugas kampus yang banyak dari internet. Prinsipku, walaupun aku “rajin” menebar rayuan di dunia maya namun kuliahku pun arus tetap berjalan.
***
Dari dunia maya ini, tak hanya pacar maya yang kumiliki tapi juga sahabat maya yang juga perempuan, Afni namanya. Afni ini berdomisili di kota yang sama denganku, karena itulah aku tak mau menjadikannya pacar.
Ah tidak, bukan karena itu, Afni ini tong sampahku. Tong sampah? Itu julukanku buat dia karena afni lah yang dari sejak SMAku dulu yang selalu menyambut keluh kesahku dengan pacar nyataku Vira, seorang gadis yang condong bergaya kebarat-baratan.
Namun aku tak kuasa menyudahi hubunganku dengan Vira, sebab ia adalah anak dari rekanan bisnis papaku yang dijodohkan denganku. Karena jenuh dengan perjodohan itulah, aku iseng menebar rayuan di dunia maya.
Afni selalu memberikan berbagai nasehat untukku, entah itu tentang kuliahku, tentang kelanjutan hubunganku dengan Vira atau pun tentang hobi isengku menebar virus-virus merah jambu di friendster.
Suatu hari ketika sedang ngobrol dengan Afni di chatting YM, ia berkata “udah cukup petualangan cinta mayamu dengan banyak gadis itu Ri. Jangan memberikan harapan kepada mereka. Apalagi kamu kan gak pernah ketemu sama mereka. Aku takut mereka sakit hati padamu”.
“gak pa-pa kok Ni, mereka sih santai-santai aja. Kan ini iseng gitu Ni, aku suntuk sama Vira. Kamu kan tau tentang dia? Aku bingung harus gimana lagi untuk buang suntuk sama perjodohan ini Ni”, jawabku pada Afni.
“bukan begitu Ri, aku takutnya hobi menebar Virusmu itu nanti berbalik padamu”, katanya yang membuatku penasaran dan menjawab, “maksudmu gimana Ni? Toh mereka itu kan Cuma pacar maya, aku pun gak mungkin datang ke kota mereka”.
Afni pun menjawab, “jangan lagi deh Ri, aku takut hobimu ini berdampak gak baik untukmu, pikirin deh kata-kataku tadi. Udah ya, aku mau tidur, udah jam 10 malam, besok aku ada kuliah pagi”, dan chatting YM pun terhenti.
Ketika hendak tidur, aku memikirkan perkataan Afni tadi. Apa maksudnya ya? Dampak gimana ke aku?. Lelah berfikir tentang itu, aku pun tertidur.
***
Keesokan malamnya, aku bertemu lagi dengan Afni di YM. Kembali aku menanyakan tentang kata-kata afni semalam yang sangat tak kumengerti. Afni hanya memberikan pernyataan mengambang dan berbagai pertanyaan yang kesusahan untuk kujawab. Dengan rasa penasaranku yang tetap masih bertanya padanya, akhirnya Afni pun menjawab, “aku takut, suatu saat kamu yang akan mencintai perempuan di dunia maya Ri. Aku takut kamu yang akan sakit hati”.
“tidak Ni, ini hanya permainan untuk mengisi kesuntukanku. Aku menikmati suara manja mereka di telepon. Kamu tau kan bahwa nomor teleponku yang kuberikan kepada mereka bukan nomorku yang sebenarnya. Kalau aku suntuk sama mereka, dengan gampang aku bisa buang nomor itu dan mereka gak akan nemuin aku lagi. Mereka pun akan ku-block dari facebookku. Aman kok Ni, tenang aja”, alasanku pada Afni.
“ya sudah, lakukan sesukamu. Semoga yang kutakutkan tadi tak terjadi, aku tidur ya”, lagi-lagi Afni mengakhiri chatting kami malam itu.
***
Bulan berganti tahun, persahabatanku dengan Afni tetap terjalin baik di dunia maya ini tanpa pernah bertemu di tahun ketiga ini. Hubunganku dengan Vira pun berjalan seperti biasa. Beberapa pacar mayaku pun telah ku-block dari facebookku, nomor ponselku pun tak pernah kugonta-ganti lagi.
Aku mulai menjalani hari-hariku seperti biasa namun tetap mencari mangsa di facebook. Mangsaku kali ini adalah seorang gadis yang baru saja tamat SMA. Seperti biasa, dari facebook ke YM ke nomor ponsel. Namun kali ini agak meningkat, ke twitter. Fani namanya.
Semakin hari semakin intens rayuanku padanya hingga aku menemukan kenyamanan dengan gadis itu. Hari-hariku kulewati dengan memandang fotonya dan mendengar suaranya. Aku mulai rajin menghubungi ponselnya. Aku mulai merasa tak bisa menjalani hariku tanpanya. Aku mulai teringat akan perkataan Afni. Mungkin ini maksudnya.
Sepertinya ini adalah karma yang kutuai dari hasil menabur benih merah jambu. Namun aku tak berani mengatakan perihal rasa bodoh ini padanya. Ya, setidaknya Afni akan mengatakan rasa cinta ini ada berkat kebodohanku. Bodohkah aku?
***
Ari namaku, predikat playboy maya yang kusandang seketika menohokku. Tak kuasa kubendung rasa ini, mungkinkah ini yang namanya Cinta? Cinta? Ya.. mungkin ini rasanya dari akibat terlalu banyak menabur cinta di dunia maya.
Karena tak sanggup lagi menyimpan rasaku, kuberanikan diri menyakan perasaanku pada Fani, “fan,, aku tuh sebenarnya orangnya gak suka suatu hal yang bertele-tele, aku mau bilang aku suka sama kamu”. “aku juga suka sama kamu jadi kita jalani aja dengan santai ya bang”, kata Fani.
Aku tak mengerti akan ucapan Fani, namun kurasa ia menerima pernyataanku. Malam itu juga aku memutuskan hubunganku dengan Vira demi Fani, kekasih mayaku.
Mulailah cerita cinta mayaku dimulai. selain saling mengumbar kata cinta, Fani pun jadi sering memintaku untuk mengisi pulsa ponsel dan modemnya. Tanpa menolak, akupun menyanggupi permintaanya. Bagiku, yang penting aku tetap bisa Sharing and Connecting dengan cinta mayaku. Bahkan ketika Fani mendapati tugas-tugas yang sulit, aku pun rela mengerjakannya, bahkan aku sering tak tidur dimalam hari demi tugas-tugasnya yang sulit itu.
Segala keluh kesah Fani pun dengan setia kudengarkan lewat percakapan maya kami, hingga aku harus mendengarkan cerita tentang banyak lelaki yang mendekatinya. Cemburukah aku? Ya,, aku memang cemburu dan memang kukatakan hal itu kepadanya. Menurut pengakuannya, ia juga menyukaiku namun karena kita jauh jadi Fani mungkin membuthkan pacar yang dekat dengannya. Namun aku tetap menjalani hubunganku dengannya. layaknya orang lain yang berpacaran, hubungan kami juga sering dilanda pertengkaran dan ia juga sering menangis karena kemarahanku karena banyak lelaki yang mendekatinya di kotanya.
***
Cemburukah aku? Kurasa benar, aku cemburu. Karena tak dapat membendung rasa cemburuku, akhirnya aku menceritakan semua hal itu pada Afni dan Afni mengatakan, “boleh jadi kalau kamu memang mencintainya Ri, namun tanpa sadar kamu udah dimanfaatkan olehnya”. Sebuah pernyataan yang cukup telak dari seorang Afni.
“maaf ya Ri, sepertinya kamu terlalu bodoh bahkan kamu telah dibutakan oleh cinta mayamu. Sepertinya ia memang tak mencintaimu, ia hanya memanfaatkan uangmu. Ia juga pintar memanfaatkan rasa cintamu demi tugas-tugas kampusnya yang sulit yang harus kau kerjakan. Kalau ia memang mencintaimu, seharusnya ia tak menceritakan padamu tentang banyak pria yang mendekatinya”, lanjut Afni.
“Fani cinta kok sama aku Ni, buktinya ia selalu berkeluh kesah padaku”, kataku lagi.
“jika ia mencintaimu, maka ia akan menjaga perasaanmu. Sepertinya kau memang sudah buta Ri. Renungkan tiap kata dariku baru kau boleh menghubungi YMku lagi dan selamat malam”, dan afni pun mematikan YMnya.
***
Hari demi hari aku tetap menjalani hubungan mayaku dengan Fani dan semakin lama sepertinya perkataan Afni memang benar adanya. Sepertinya aku dimanfaatkan oleh Fani sampai suatu ketika ia menghubungiku. Sambil menangis ia memintaku untuk mengirimkan sejumlah uang ke rekeningnya. Menurut pengakuan Fani, uang kuliahnya baru saja dirampok. Aku yang memang mudah iba pada seseorang, dengan tanpa pikir panjang meluluskan permintaannya. Untuk keperluan lain, ia juga sering meminta uang dariku.
***
Lama kelamaan aku merasakan sesuatu yang beda dari Fani. Ia mulai jarang menghubungiku, bahkan suatu hari nomor ponselnya sudah tak aktif lagi. Facebooknya pun sudah dead active. Twitternya pun tak berkicau lagi.
Dimana Fani? Apakah memang benar ia telah memanfaatkanku?
Saat itu pula aku teringat pada Afni, afni yang berusaha membangunkanku. Perkataan Afni yang tak kuindahkan kini perlahan membunuhku.
***
Malam itu juga untuk pertama kalinya aku menghubungi ponselnya. Aku menceritakan segalanya pada Afni kalau ternyata Fani telah memanfaatkanku.
Afni mendengarkan keluhanku, Suaranya terdengar begitu lembut, tak sekeras pernyataan-pernyataannya di chatting. Ia memberi nasehat padaku agar aku melupakan cinta mayaku dan menemukkan cinta nyataku setelah Vira yang telah kuputuskan demi Fani dulu.
“Kembalilah ke dunia nyatamu Ri, carilah gadis yang kamu kenal dengan baik. Kalaupun kamu mengalami cinta maya lagi, kamu harus menyelami dulu kepribadiannya jangan hanya terkesima dengan fotonya”, ujar Afni.
Banyak dari perkataan Afni yang cukup membangunkanku dari angan-anganku terhadap Fani, Kehadiran Afni menyadarkanku akan berartinya sahabat mayaku ini, namun aku tak berani mengajaknya bertemu.
Sekarang aku baru mengerti bahwa Mencintai seseorang tanpa tahu mengapa harus mencintai orang itu, hingga dirinya tak sadar bahwa sedang dimanfaatkan oleh orang yang ia cintai memang benar adanya sebab kenyataan itu telah kualami.
***
Malam ini, aku akan mengajaknya keluar bersamaku esok hari. Semoga ia mau bertemu denganku di dunia nyata.
O,, bukan,, sedari dulu ia memang mau menemuiku, aku saja yang begitu bodoh karena hanya menganggapnya sebagai tong sampah andalanku. padahal ia selalu hadir ditengah kegalauanku.  Ah, semoga saja ajakanku nanti malam membuahkan hasil.
Harapanku, semoga keisenganku bermain di dunia maya tak lagi  mempertemukanku dengan gadis semacam Fani. Aku ingin bertemu gadis baik dan tegas seperti Afni yang cukup sering menyadarkanku. (Auda Zaschkya)

Sumber: Kompasiana

Bertekuk Lutut Pada Perempuan Maya

0 comments

Anti Galau - Dunia maya adalah sebuah dunia yang tak asing lagi bagiku. Dari sejak berkembangnya friendster, aku sudah sangat akrab dengan warnet yang berlokasi di dekat sekolahku. Duniaku tak pernah lepas dari internet, bahkan aku meminta orang tuaku untuk berlangganan internet setiap bulan. Jadilah aku semakin ketergantungan internet. Kegiatanku disana selain nge-game tapi tetap eksis di friendster. Apa yang kulakukan di friendster?
Namaku Ari, seorang playboy maya. Di akun friendsterku, banyak perempuan yang menjadi pacar mayaku. Dunia maya memang mengganggu kegiatan sekolah. Nilai-nilai pelajaranku anjlok, tidurku pun jadi kurang. Beruntung aku dapat menamatkan diri dari SMA walaupun dengan merogoh kantong sebesar Rp 300.000,00 demi kunci jawaban yang kudapatkan dari seorang Joki ketika Ujian Nasional (UN). Aku bodoh ya? Kurasa tidak, Cuma sedikit malas sejak mencintai internet.
***
Lulus SMA, aku masuk ke sebuah universitas swasta yang cukup terkenal di kotaku. Sebagai playboy maya tentunya aku masih saja merayu gadis-gadis di friendster. Pertemanan maya di friendster, segera kualihkan ke facebook yang selalu berlanjut ke chatting di Yahoo Messanger (YM !), tentunya aku tak lupa mencari tugas kampus yang banyak dari internet. Prinsipku, walaupun aku “rajin” menebar rayuan di dunia maya namun kuliahku pun arus tetap berjalan.
***
Dari dunia maya ini, tak hanya pacar maya yang kumiliki tapi juga sahabat maya yang juga perempuan, Afni namanya. Afni ini berdomisili di kota yang sama denganku, karena itulah aku tak mau menjadikannya pacar.
Ah tidak, bukan karena itu, Afni ini tong sampahku. Tong sampah? Itu julukanku buat dia karena afni lah yang dari sejak SMAku dulu yang selalu menyambut keluh kesahku dengan pacar nyataku Vira, seorang gadis yang condong bergaya kebarat-baratan.
Namun aku tak kuasa menyudahi hubunganku dengan Vira, sebab ia adalah anak dari rekanan bisnis papaku yang dijodohkan denganku. Karena jenuh dengan perjodohan itulah, aku iseng menebar rayuan di dunia maya.
Afni selalu memberikan berbagai nasehat untukku, entah itu tentang kuliahku, tentang kelanjutan hubunganku dengan Vira atau pun tentang hobi isengku menebar virus-virus merah jambu di friendster.
Suatu hari ketika sedang ngobrol dengan Afni di chatting YM, ia berkata “udah cukup petualangan cinta mayamu dengan banyak gadis itu Ri. Jangan memberikan harapan kepada mereka. Apalagi kamu kan gak pernah ketemu sama mereka. Aku takut mereka sakit hati padamu”.
“gak pa-pa kok Ni, mereka sih santai-santai aja. Kan ini iseng gitu Ni, aku suntuk sama Vira. Kamu kan tau tentang dia? Aku bingung harus gimana lagi untuk buang suntuk sama perjodohan ini Ni”, jawabku pada Afni.
“bukan begitu Ri, aku takutnya hobi menebar Virusmu itu nanti berbalik padamu”, katanya yang membuatku penasaran dan menjawab, “maksudmu gimana Ni? Toh mereka itu kan Cuma pacar maya, aku pun gak mungkin datang ke kota mereka”.
Afni pun menjawab, “jangan lagi deh Ri, aku takut hobimu ini berdampak gak baik untukmu, pikirin deh kata-kataku tadi. Udah ya, aku mau tidur, udah jam 10 malam, besok aku ada kuliah pagi”, dan chatting YM pun terhenti.
Ketika hendak tidur, aku memikirkan perkataan Afni tadi. Apa maksudnya ya? Dampak gimana ke aku?. Lelah berfikir tentang itu, aku pun tertidur.
***
Keesokan malamnya, aku bertemu lagi dengan Afni di YM. Kembali aku menanyakan tentang kata-kata afni semalam yang sangat tak kumengerti. Afni hanya memberikan pernyataan mengambang dan berbagai pertanyaan yang kesusahan untuk kujawab. Dengan rasa penasaranku yang tetap masih bertanya padanya, akhirnya Afni pun menjawab, “aku takut, suatu saat kamu yang akan mencintai perempuan di dunia maya Ri. Aku takut kamu yang akan sakit hati”.
“tidak Ni, ini hanya permainan untuk mengisi kesuntukanku. Aku menikmati suara manja mereka di telepon. Kamu tau kan bahwa nomor teleponku yang kuberikan kepada mereka bukan nomorku yang sebenarnya. Kalau aku suntuk sama mereka, dengan gampang aku bisa buang nomor itu dan mereka gak akan nemuin aku lagi. Mereka pun akan ku-block dari facebookku. Aman kok Ni, tenang aja”, alasanku pada Afni.
“ya sudah, lakukan sesukamu. Semoga yang kutakutkan tadi tak terjadi, aku tidur ya”, lagi-lagi Afni mengakhiri chatting kami malam itu.
***
Bulan berganti tahun, persahabatanku dengan Afni tetap terjalin baik di dunia maya ini tanpa pernah bertemu di tahun ketiga ini. Hubunganku dengan Vira pun berjalan seperti biasa. Beberapa pacar mayaku pun telah ku-block dari facebookku, nomor ponselku pun tak pernah kugonta-ganti lagi.
Aku mulai menjalani hari-hariku seperti biasa namun tetap mencari mangsa di facebook. Mangsaku kali ini adalah seorang gadis yang baru saja tamat SMA. Seperti biasa, dari facebook ke YM ke nomor ponsel. Namun kali ini agak meningkat, ke twitter. Fani namanya.
Semakin hari semakin intens rayuanku padanya hingga aku menemukan kenyamanan dengan gadis itu. Hari-hariku kulewati dengan memandang fotonya dan mendengar suaranya. Aku mulai rajin menghubungi ponselnya. Aku mulai merasa tak bisa menjalani hariku tanpanya. Aku mulai teringat akan perkataan Afni. Mungkin ini maksudnya.
Sepertinya ini adalah karma yang kutuai dari hasil menabur benih merah jambu. Namun aku tak berani mengatakan perihal rasa bodoh ini padanya. Ya, setidaknya Afni akan mengatakan rasa cinta ini ada berkat kebodohanku. Bodohkah aku?
***
Ari namaku, predikat playboy maya yang kusandang seketika menohokku. Tak kuasa kubendung rasa ini, mungkinkah ini yang namanya Cinta? Cinta? Ya.. mungkin ini rasanya dari akibat terlalu banyak menabur cinta di dunia maya.
Karena tak sanggup lagi menyimpan rasaku, kuberanikan diri menyakan perasaanku pada Fani, “fan,, aku tuh sebenarnya orangnya gak suka suatu hal yang bertele-tele, aku mau bilang aku suka sama kamu”. “aku juga suka sama kamu jadi kita jalani aja dengan santai ya bang”, kata Fani.
Aku tak mengerti akan ucapan Fani, namun kurasa ia menerima pernyataanku. Malam itu juga aku memutuskan hubunganku dengan Vira demi Fani, kekasih mayaku.
Mulailah cerita cinta mayaku dimulai. selain saling mengumbar kata cinta, Fani pun jadi sering memintaku untuk mengisi pulsa ponsel dan modemnya. Tanpa menolak, akupun menyanggupi permintaanya. Bagiku, yang penting aku tetap bisa Sharing and Connecting dengan cinta mayaku. Bahkan ketika Fani mendapati tugas-tugas yang sulit, aku pun rela mengerjakannya, bahkan aku sering tak tidur dimalam hari demi tugas-tugasnya yang sulit itu.
Segala keluh kesah Fani pun dengan setia kudengarkan lewat percakapan maya kami, hingga aku harus mendengarkan cerita tentang banyak lelaki yang mendekatinya. Cemburukah aku? Ya,, aku memang cemburu dan memang kukatakan hal itu kepadanya. Menurut pengakuannya, ia juga menyukaiku namun karena kita jauh jadi Fani mungkin membuthkan pacar yang dekat dengannya. Namun aku tetap menjalani hubunganku dengannya. layaknya orang lain yang berpacaran, hubungan kami juga sering dilanda pertengkaran dan ia juga sering menangis karena kemarahanku karena banyak lelaki yang mendekatinya di kotanya.
***
Cemburukah aku? Kurasa benar, aku cemburu. Karena tak dapat membendung rasa cemburuku, akhirnya aku menceritakan semua hal itu pada Afni dan Afni mengatakan, “boleh jadi kalau kamu memang mencintainya Ri, namun tanpa sadar kamu udah dimanfaatkan olehnya”. Sebuah pernyataan yang cukup telak dari seorang Afni.
“maaf ya Ri, sepertinya kamu terlalu bodoh bahkan kamu telah dibutakan oleh cinta mayamu. Sepertinya ia memang tak mencintaimu, ia hanya memanfaatkan uangmu. Ia juga pintar memanfaatkan rasa cintamu demi tugas-tugas kampusnya yang sulit yang harus kau kerjakan. Kalau ia memang mencintaimu, seharusnya ia tak menceritakan padamu tentang banyak pria yang mendekatinya”, lanjut Afni.
“Fani cinta kok sama aku Ni, buktinya ia selalu berkeluh kesah padaku”, kataku lagi.
“jika ia mencintaimu, maka ia akan menjaga perasaanmu. Sepertinya kau memang sudah buta Ri. Renungkan tiap kata dariku baru kau boleh menghubungi YMku lagi dan selamat malam”, dan afni pun mematikan YMnya.
***
Hari demi hari aku tetap menjalani hubungan mayaku dengan Fani dan semakin lama sepertinya perkataan Afni memang benar adanya. Sepertinya aku dimanfaatkan oleh Fani sampai suatu ketika ia menghubungiku. Sambil menangis ia memintaku untuk mengirimkan sejumlah uang ke rekeningnya. Menurut pengakuan Fani, uang kuliahnya baru saja dirampok. Aku yang memang mudah iba pada seseorang, dengan tanpa pikir panjang meluluskan permintaannya. Untuk keperluan lain, ia juga sering meminta uang dariku.
***
Lama kelamaan aku merasakan sesuatu yang beda dari Fani. Ia mulai jarang menghubungiku, bahkan suatu hari nomor ponselnya sudah tak aktif lagi. Facebooknya pun sudah dead active. Twitternya pun tak berkicau lagi.
Dimana Fani? Apakah memang benar ia telah memanfaatkanku?
Saat itu pula aku teringat pada Afni, afni yang berusaha membangunkanku. Perkataan Afni yang tak kuindahkan kini perlahan membunuhku.
***
Malam itu juga untuk pertama kalinya aku menghubungi ponselnya. Aku menceritakan segalanya pada Afni kalau ternyata Fani telah memanfaatkanku.
Afni mendengarkan keluhanku, Suaranya terdengar begitu lembut, tak sekeras pernyataan-pernyataannya di chatting. Ia memberi nasehat padaku agar aku melupakan cinta mayaku dan menemukkan cinta nyataku setelah Vira yang telah kuputuskan demi Fani dulu.
“Kembalilah ke dunia nyatamu Ri, carilah gadis yang kamu kenal dengan baik. Kalaupun kamu mengalami cinta maya lagi, kamu harus menyelami dulu kepribadiannya jangan hanya terkesima dengan fotonya”, ujar Afni.
Banyak dari perkataan Afni yang cukup membangunkanku dari angan-anganku terhadap Fani, Kehadiran Afni menyadarkanku akan berartinya sahabat mayaku ini, namun aku tak berani mengajaknya bertemu.
Sekarang aku baru mengerti bahwa Mencintai seseorang tanpa tahu mengapa harus mencintai orang itu, hingga dirinya tak sadar bahwa sedang dimanfaatkan oleh orang yang ia cintai memang benar adanya sebab kenyataan itu telah kualami.
***
Malam ini, aku akan mengajaknya keluar bersamaku esok hari. Semoga ia mau bertemu denganku di dunia nyata.
O,, bukan,, sedari dulu ia memang mau menemuiku, aku saja yang begitu bodoh karena hanya menganggapnya sebagai tong sampah andalanku. padahal ia selalu hadir ditengah kegalauanku.  Ah, semoga saja ajakanku nanti malam membuahkan hasil.
Harapanku, semoga keisenganku bermain di dunia maya tak lagi  mempertemukanku dengan gadis semacam Fani. Aku ingin bertemu gadis baik dan tegas seperti Afni yang cukup sering menyadarkanku. (Auda Zaschkya)

Sumber: Kompasiana

Berita TerhangatRSS

SainstekRSS

HiburanRSS

Dinamika Cinta

LifestyleRSS

Kesehatan

 

Posts RSSComments RSSDMCA PROTECTEDBack to top
Ya Iya dong - Premium Blogger Template © 2014 ∙ All Right Reserved ∙
Designed by Muhammad Sapoandie